Perlunya Perawatan Spiritual pada Pasien dengan Kondisi Kritis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Imaos

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Tidak hanya berupa fisik, namun juga dilengkapi oleh komponen biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Komponen-komponen tersebut menuntut untuk selalu dipenuhi kebutuhannya. Jika pada saat kondisi sehat, kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan baik, lantas, bagaimana jika seseorang dalam kondisi sakit, khususnya pasien-pasien yang memiliki penyakit yang serius dan dirawat di Ruang Perawatan Intensif?

Pasien yang berada di ruang rawat intensif umumnya terintubasi dan tidak sadarkan diri. Kondisi ini berdampak secara  psikologis, sosial, dan spiritual. Seringkali kondisi tersebut menimbulkan ketidakberdayaan dan keputusasaan pada pasien dan pada akhirnya jatuh dalam kondisi distres spiritual dimana pasien sudah tidak lagi percaya pada Tuhan, tidak lagi melakukan ibadah, dan hilang pengharapan terhadap Tuhan. Proses penyembuhan dan mekanisme koping tentunya akan terhambat jika pasien mengalami distres spiritual.

Perawat sebagai tenaga kesehatan yang paling lama berada di dekat pasien memiliki kewajiban untuk membantu terpenuhinya kebutuhan dasar pasien, khususnya kebutuhan spiritual pasien disamping memenuhi kebutuhan dasar yang lain. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual masih belum optimal. Perawat di ruang rawat intensif lebih banyak menekankan pada kebutuhan fisik saja, seperti menstabilkan tanda vital pasien dan mengatasi nyeri, namun mereka jarang memberikan perhatian pada kebutuhan spiritual. Asuhan keperawatan spiritual telah banyak dibahas dan diteliti. Namun pada praktiknya perawat kesulitan untuk menerapkannya kepada pasien khususnya pasien dengan perawatan intensif.  Kondisi ini disebabkan karena perawat kurang mengetahui bagaimana cara memberikan perawatan spiritual kepada pasien dengan perawatan intensif yang kondisinya terintubasi dan tidak berdaya.

Walaupun dalam kondisi terintubasi, tidak sadar, dan tidak berdaya, pasien tetaplah manusia yang memiliki rasa dan harus tetap diperlakukan dengan baik. Telaah sistematis yang telah dilakukan menemukan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual tidak hanya terbatas pada ritual peribadatan saja. Komunikasi adalah komponen yang penting untuk dilakukan. Intervensi sederhana seperti komunikasi bersama pasien, mendengarkan keluh kesah pasien, dan melakukan tanya jawab seputar keyakinan pasien dapat dilakukan. Bersama dengan pasien, perawat dapat mengetahui pasien dalam mengekspresikan pengalaman rasa sakit, ketidaknyamanan, dan mendengarkan ekspresi emosi dan kecemasan, seperti depresi, kesedihan, ketakutan atau kesepian, yang bisa menghambat kesehatan mereka secara fisik, emosional dan spiritual. Hal ini dapat meningkatkan pemahaman perawat tentang kebutuhan spiritual pasien.

Perawat juga dapat memfasilitasi pasien untuk melakukan doa atau membacakan kitab. Doa adalah metode utama dimana pasien dapat berhubungan dengan kondisi spiritualnya. Doa memiliki efek positif pada psikologis dan kesejahteraan fisik. Identifikasi kebaikan pasien,  menghormati, berbicara dan mendengarkan, dan berdoa adalah aspek-aspek penting dari perawatan spiritual  mereka. Berdoa bersama atau berdoa  untuk pasien, menghabiskan waktu bersama pasien dan meyakinkan pasien, mendengarkan pasien secara verbal tentang ketakutan dan kecemasan mereka, menunjukkan rasa hormat terhadap martabat dan keyakinan spiritual agama mereka, menunjukkan kebaikan dan peduli, mengatur kunjungan pemimpin spiritual/agama dan menawarkan harapan adalah hal-hal yang penting dan sederhana yang dapat dilakukan untuk pasien.

Perawat juga dapat melakukan kolaborasi dengan pemuka agama dan keluarga untuk melakukan pembimbingan kepada pasien dan memnuhi kebutuhan spiritual pasien. Keluarga memiliki peran penting dalam mendukung dan meningkatkan kondisi kesehatan pasien. Perawat dapat  berkolaborasi pemimpin agama untuk memberikan perawatan spiritual bagi
pasien dan keluarga mereka.  Kolaborasi yang efektif diperlukan (terutama mengingat
perubahan saat ini dalam sistem perawatan kesehatan) untuk menyediakan perawatan spiritual yang memadai.

Keperawatan spritual tidak hanya terbatas pada ritual peribadatan saja. Intervensi sederhana seperti komunikasi terbuka, membantu pasien untuk berdoa dan berkolaborasi dengan keluarga dan pemimpin agama dapat diimplementasikan dalam perawatan kepada pasien untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka khususnya pasien yang dilakukan perawatan intensif. Dengan demikian, perawat dapat dengan mudah untuk melakukan intervensi keperawatan spiritual sehingga pasien tidak mengalami distres spiritual, memiliki motivasi dan keyakinan untu sembuh atau meningkatkan kondisi kesehatannya. Perawatan spiritual juga dapat membuat pasien menerima kondisinya, merasa nyaman, dan dapat menjadi fasilitas untuk mengantarkan pasien pada kematian yang damai.

Penulis: Sriyono, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB

Informasi hasil riset dapat dilihat pada link:

https://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=8&article=536

Laili Nadia Rohmatul, Zulkarnain Hakim, Yasmara Deni, Sriyono. 2019. Promoting Spiritual Nursing Care in an Intensive Care Unit: A Systematic Review. Indian Journal of Public Health Research & Development, Volume : 10, Issue : 8.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu