Pentingnya Aspek Psikologis dalam Meningkatkan Kepatuhan Klien Hemodialisis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pasien hemodialisis. (Sumber: alodokter)

Hemodialisis (cuci darah) merupakan salah satu terapi pengganti ginjal untuk klien dengan penyakit ginjal stadium akhir. Hemodialisis diperlukan saat ginjal sudah tidak mampu melakukan fungsinya dalam mengeluarkan zat yang tidak diperlukan oleh tubuh. Klien yang harus menjalani hemodialisis menghadapi berbagai tantangan dan masalah baik terkait kondisi kesehatan maupun terkait aturan yang harus diikuti selama menjalani hemodialisis.

Kepatuhan terhadap pembatasan cairan merupakan salah satu tantangan utama bagi pasien dialisis. Kepatuhan menjadi kunci utama kesuksesan dalam pengobatan. Perubahan fluktuasi kondisi fisik dan psikososial pada pasien dialisis tampaknya berkontribusi pada ketidakmampuan pasien dialisis untuk mempertahankan kepatuhan.

Faktor-faktor spesifik yang terkait dengan perubahan kondisi fisik dan psikologis (durasi dialisis, keparahan, stres, motivasi) dan persepsi kepatuhan dan dukungan sebaya perlu dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah faktor-faktor ini juga mempengaruhi kepatuhan pasien dialisis dalam pembatasan cairan.

Banyak penelitian sebelumnya telah dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Karakteristik demografis dan faktor lain telah banyak diteliti termasuk kondisi psikologis yaitu depresi yang dialami pasien. Penelitian terkait kondisi psikologis (stres) dalam mempengaruhi kepatuhan pasien dialisis terhadap pembatasan cairan dilakukan penelitian lebih lanjut.

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan 89,6% menunjukkan kepatuhan yang rendah terhadap pembatasan cairan dan 91% di antaranya berada dalam kategori tingkat stres yang sangat tinggi. Tingkat stres merupakan prediktor utama dalam kepatuhan terhadap pembatasan cairan. Tingkat stres yang sangat tinggi meningkatkan risiko ketidakpatuhan pasien dialisis. Pasien dialisis yang mengalami stres akan menunjukkan kepatuhan pembatasan cairan 11,4 kali lebih rendah daripada pasien dialisis lain setelah mengendalikan variabel keparahan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang memprediksi hubungan antara kepatuhan dengan kondisi psikososial yang menyatakan bahwa kondisi psikologis adalah prediktor kepatuhan pengikat fosfat selain usia dan pekerjaan. Dalam penelitian itu juga menyatakan bahwa variabel depresi, kecemasan, dan stres dapat menjadi risiko kepatuhan minum obat.

Distress dan gangguan psikologis merupakan masalah yang signifikan bagi pasien Penyakit Ginjal Kronis Tahap Akhir. Pasien dialisis rentan terhadap stres terutama karena paparan stresor hemodialisis dan berbagai aturan yang harus diikuti. Stresor lainnya adalah masalah kehidupan, baik yang berkaitan dengan ekonomi, hubungan pribadi dengan pasangan, dengan anak-anak atau anggota keluarga lainnya, hubungan sosial, pekerjaan, bahkan pendidikan.

Mirip dengan hasil lain yang menyebutkan bahwa masalah psikologis yang paling banyak adalah masalah makanan dan cairan, pengangguran, masalah seksual, perubahan penampilan tubuh, keterbatasan dalam kegiatan fisik, sering dirawat di rumah sakit, lamanya waktu dialisis, ketidakpastian tentang masa depan, perubahan dalam kehidupan gaya, peningkatan ketergantungan, dan gangguan tidur. Mengenai stres fisiologis, masalah termasuk kelelahan, nyeri selama kanulasi, kram otot, gangguan kulit, mual dan muntah.

Stresor psikososial diketahui terkait dengan penggunaan mekanisme koping yang berorientasi pada pemecahan masalah. Penelitian ini menegaskan bahwa stresor psikososial (termasuk yang terkait dengan stresor restriksi cairan) lebih mudah disesuaikan dengan pasien, tentu saja jika mekanisme koping yang dimiliki oleh pasien berfokus pada penyelesaian masalah. Pasien dialisis yang mengalami stresor berulang akan menunjukkan keterampilan dalam mengatasi stresor ini atau juga dapat menyebabkan eksaserbasi gejala depresi dan berdampak pada kepatuhan.

Perubahan fisik dan psikososial yang dialami oleh pasien dialisis berkontribusi pada pencapaian kepatuhan pembatasan cairan. Studi ini menunjukkan bahwa perubahan psikologis, yaitu stres yang dialami oleh pasien dialisis menjadi prediktor utama dalam kepatuhan pembatasan cairan. Perawat dialisis perlu mempertimbangkan perubahan psikologis yang dialami oleh pasien dan merencanakan intervensi yang sesuai dengan kondisi psikologis yang dialami. (*)

Penulis: Ika Yuni Widyawati

Artikel lengkapnya dapat diakses melalui laman berikut ini

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=3&article=096

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu