Pakar UNAIR Menilik Optimasi Suhu Sintesis Metil Ferulat untuk Anti Platelet

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Anti platelet adalah golongan obat yang digunakan sebagai pengencer darah. Obat golongan ini kerap kali digunakan oleh penderita penyakit jantung untuk mencegah terbentuknya gumpalan darah. Meningat manfaatnya yang begitu besar, pengembangan terkait anti platelet pun terus dilakukan hingga kini.

Salah satu senyawa kimia yang sedang diteliti adalah metil ferulat. Derivat asam ferulat tersebut dilaporkan memiliki aktivitas anti platelet saat dikombinasikan dengan dabigatran yang sudah beredar di pasaran. Senyawa metil ferulat merupakan suatu senyawa ester yang dapat disintesis dengan beberapa metode. Di antaranya reaksi esterifikasi Fischer, metilasi dengan dimetil karbonat, metilasi dengan campuran BF3 dan metanol,  dan metilasi dengan dimetil sulfat.

“Senyawa ester umumnya kurang stabil pada suhu tinggi, maka penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh suhu pada sintesis metil ferulat menggunakan sumber energi ultrasonik,” buka Dr. Juni Ekowati., M.Si., Apt., peneliti sekaligus dosen Universitas Airlangga.

Juni mengungkapkan bahwa penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap pertama adalah optimasi suhu dan intensitas ultrasonik. Optimasi dilakukan pada beberapa kondisi, dan reaksi dimonitor pada menit ke-0, 15, 30, 45, 60, 90, 120, 180, 240, dan 360. Kemudian, dari hasil optimasi tersebut, dipilih suhu reaksi 65oC dan 55oC, untuk dipelajari.

“Setelah itu hasil sintesis akan dianalisis dengan spektrofotometri UV, IR, dan HNMR,” sebutnya.

“Data-data spektra yang diperoleh menunjukkan  bahwa  reaksi sintesis metil ferulat dengan metode reaksi esterifikasi Fischer asam ferulat dan metanol dengan bantuan gelombang ultrasonik pada suhu 65oC dan 55oC dapat menghasilkan metil ferulat, dengan persentase lebih tinggi pada suhu 65 oC,” lanjutnya.

Tahap kedua penelitian ini adalah penentuan orde reaksi sintesis metil ferulat dengan metode grafik. Hasil eksperimen menunjukkan sintesis metil ferulat berjalan mengikuti mekanisme orde kedua dengan tetapan laju reaksi lebih tinggi pada suhu 65oC.

Tahap berikutnya adalah pengujian yang dilakukan pada mencit selama tujuh hari. Aktivitas senyawa metil ferulat hasil sintesis dibandingkan dengan aspirin dan kelompok dengan perlakuan tanpa obat.

“Hasil percobaan menunjukkan bahwa perubahan gugus karboksilat menjadi gugus ester menyebabkan adanya peningkatan blood clotting time (waktu pembekuan darah, red) sebesar 1,6 kali, sedangkan bleeding time (waktu perdarahan, red) meningkat sebesar 1,35 kali,” sebut Juni.

Juni menyebutkan bahwa pemanfaatan gelombang ultrasonik pada reaksi kimia sangat menguntungkan, terutama pada senyawa yang tidak tahan temperatur tinggi. Selain mempengaruhi persentase hasil sintesis, tinggi rendah temperature reaksi mempengaruhi juga laju reaksi. (*)

Penulis: Sukma Cindra Pratiwi

Editor: Khefti Al Mawalia

Referensi:

https://jurnal.uns.ac.id/alchemy/article/view/29914/pdf

Juni Ekowati, Rian Putra Pratama, Kholis A. Nofianti, Nuzul W. Diyah.

The Temperature Effect on Ultrasonic-assisted of Synthesis Methyl Ferulate and Its Antiplatelet Assay. ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia, Vol. 15(2) 2019, 272-286. DOI: 10.20961/alchemy.15.2.29914.272-286

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu