Dosen Kesmas UNAIR Himbau Masyarakat Untuk Berhenti Merokok

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Dr. Santi Martini dr., M.Kes dan tim kembali melakukan penelitian sekaligus menghimbau kepada masyarakat Indonesia untuk berhenti merokok. Menurutnya, merokok merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko stroke infark. Salah satu jenis stroke yang paling banyak terjadi.

Kasus stroke, lanjutnya, dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 2018 saja, kejadian stroke berdasarkan diagnosis dokter adalah 10,9 per mil.

“Artinya, terdapat 11 kasus stroke di antara 1000 penduduk yang berusia 15 tahun keatas,” jelasnya.

Dosen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) UNAIR tersebut menyatakan bahwa Stroke terjadi ketika ada sesuatu yang menghalangi suplai darah ke bagian otak atau saat pembuluh darah masuk ke otak. Hal tersebut menyebabkan bagian otak menjadi rusak atau mati.

“Stroke menyebabkan kerusakan otak yang lama, kelumpuhan sampai kecacatan permanen, atau bahkan kematian,” imbuhnya.

Pengobatan terhadap stroke dilakukan seumur hidup. Stroke bisa meruntuhkan kehidupan seseorang maupun suatu keluarga sehingga dapat menyebabkan “shifting” alokasi belanja di tingkat keluarga.  Biaya yang diakibatkan oleh stroke pun sangatlah besar, sehingga menyedot dana BPJS.

“Kesakitan atau kematian yang disebabkan rokok, tentu mempengaruhi pendapatan, kenaikan biaya perawatan kesehatan serta menghambat pembangunan ekonomi suatu Negara,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr. Santi Martini menjelaskan bahwa rokok merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar yang dihadapi dunia. Rokok telah menewaskan lebih dari 7 juta orang per tahun.

“Hampir 80 persen dari 1 miliar perokok di seluruh dunia tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah,” jelasnya.

Indonesia merupakan negara ke empat dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Sekitar 90.000 kasus stroke berkaitan dengan rokok.  Setiap hari terdapat 255 kasus stroke berkaitan dengan rokok atau 11 kasus stroke berkaitan dengan rokok setiap jam.

“Rasanya kita sepakat tidak ada yang mau terkena serangan stroke. Mari berhenti merokok atau hindari paparan asap rokok sekarang juga,” tutupnya. (*)

Penulis: Sandi Prabowo

Editor: Khefti Al Mawalia

Referensi :

http://journal.fkm.ui.ac.id/kesmas/article/view/2261/844

Imanda, A., Martini, S., & Artanti K.D. (2019) Pasca Hipertensi dan Stroke : Studi Kasus Kontrol. Kesmas: National Public Health Journal, Vol 13 Issue 4 tahun 2019

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu