Ahli UNAIR Teliti Pengaruh Yoga terhadap Parameter Fungsi Paru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berangkat dari hal itu, Resti Yudhawati, dr., Sp.P(K) dan Mariani Rasjid Hs, dr., Sp.P., melakukan riset tentang pengaruh yoga terhadap parameter fungsi paru.

Sebelumnya, dr. Resti mengutip dari dari badan kesehatan dunia bawa pada tahun 1990 PPOK menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian di dunia, pada tahun 2002 PPOK menempati urutan ke-5 sebagai penyebab utama kematian di dunia dan diperkirakan tahun 2030 akan menjadi penyebab kematian ke-3 di seluruh dunia setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker.

Dalam penatalaksanaan penderita PPOK, jelasnya, disamping pemberian terapi secara farmakologis dan penghentian merokok juga diperlukan terapi non-farmakologis yakni rehabilitasi paru. Rehabilitasi paru, jelasnya, merupakan intervensi yang komprehensif yang meliputi olahraga, pendidikan, dan modifikasi perilaku yang dirancang untuk meningkatkan kondisi fisik dan psikologis pasien dengan PPOK.

“Beberapa jenis latihan olah raga sebagai bagian dari rehabilitasi paru bertujuan untuk mengurangi sesak dan kelelahan, serta meningkatkan kualitas kesehatan yang berhubungan dengan kehidupan dan kemampuan pada individu dengan PPOK,” ungkapmya.

Selanjutnya, ia juga menjelaskan bahwa penelitian telah menunjukkan bahwa berbagai latihan seperti latihan ekstremitas atas, Tai Chi, dan yoga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien PPOK. Yoga, sambungnya, telah dimasukkan sebagai komponen latihan yang dianjurkan untuk program rehabilitasi paru dan sebagai tambahan pengobatan terapi fisik pada program rehabilitasi dan terbukti meningkatkan koordinasi pikiran dan tubuh.

“Yoga merupakan olah raga ‘low impact’ yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan para praktisinya sehingga sesuai bagi siapapun termasuk para penderita PPOK melalui asana (postur yoga) dan pranayama (teknik pernapasan),” ungkapnya.

Studi jangka pendek pada praktek yoga, lanjutnya, telah melaporkan adanya peningkatan parameter fungsi paru, peningkatan kapasitas difusi, menurunkan angka stres akibat sesak dan meningkatkan kualitas hidup. Yoga, tandas dr. Resti, memberikan efek menguntungkan pada berbagai cabang  kesehatan termasuk muskuloskeletal, kardiopulmoner melalui latihan asana dan pranayama serta kesehatan mental, yang dikenal untuk meningkatkan koordinasi tubuh dan pikiran.

“Yoga secara lanjut digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit, termasuk penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), namun belum ada penelitian yang menilai pengaruh yoga terhadap pasien PPOK di Indonesia,” ungkapnya.

Pada akhir, ia mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa yoga memiliki efek yang menguntungkan pada parameter fungsi paru dan kualitas hidup pada pasien PPOK Kelompok B. Oleh karena itu, tandasnya, yoga dapat digunakan sebagai pilihan untuk rehabilitasi paru pada pasien dengan PPOK kategori B.

“Latihan yoga meningkatkan kerja dari sistem tubuh, yaitu sistem saraf dan seluruh organ tubuh,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Khefti Al Mawalia

Referensi:

https://journals.viamedica.pl/advances_in_respiratory_medicine/article/view/ARM.2019.0047

Resti Yudhawati and Mariani Rasjid Hs (2019). Effect of yoga on FEV1, 6-minute walk distance (6-MWD) and quality of life in patients with COPD group B. Advance in Respiratory Medicine, 87(5): 261–268

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu