Perbandingan Efektivitas Terapi Kombinasi dan Monoterapi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh gaya hidup republika

Keloid adalah hiperplasia jaringan fibrosa kulit jinak, merupakan jaringan skar yang tumbuh di luar batas dari luka awal. Keluhan yang dapat muncul adalah nyeri dan gatal. Gambaran histopatologik menunjukkan fibroblas padat dan ikatan kolagen yang tampak di seluruh ketebalan dermis. Kadar apoptotik fibroblas di keloid lebih rendah dari kulit normal. Kolagen berlebih terjadi karena ketidakseimbangan antara pembentukan dan degradasi matriks ekstraseluler. Keloid lebih sering mengenai etnis Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Kerentanan genetik meningkatkan risiko keloid 15% lebih besar daripada populasi umum. Prevalensi pasien keloid yang diobati di Departemen Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD dr. Soetomo Surabaya adalah 1,4% (83 pasien) di tahun 2013, 1,6% (80 pasien) di tahun 2014, dan 1,5% (74 pasien) di tahun 2015. Keloid dapat menyebabkan keluhan gatal, kulit ketat, kontraktur, nyeri, hingga masalah psikologis seperti tidak percaya diri, mengganggu aktivitas sehari-hari, cemas, dan depresi. Hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan keloid secara keseluruhan.

Terapi lini pertama untuk keloid adalah injeksi kortikosteroid intralesi, namun menunjukkan hasil yang baik unutk keloid yang kecil dan stadium awal. Terapi lini kedua berupa pembedahan eksisi perlu dipertimbangkan jika 12 bulan setelah terapi lini pertama tidak ada perbaikan. Terapi pembedahan tidak direkomendasikan sebagai monoterapi karena tingginya rekurensi (50-100%), bahkan dapat menjadi lebih besar. Terapi lini kedua lainnya yang dapat digunakan adalah laser. Laser fraksional CO2 efektif untuk mengobati keloid, bila dikombinasi dengan dengan injeksi triamcinolone acetonide intralesi memiliki keefektifan yang lebih tinggi dengan kemungkinkan rekurensi keloid turun menjadi 15,4%. Laser fraksional CO2. Laser fraksional CO2 masih merupakan terapi tambahan karena belum ada penelitian yang menunjukkan laser CO2 lebih baik dari injeksi triamcinone acetonide intalesi.

Penelitian ini membandingkan terapi kombinasi laser fraksional CO2 dan injeksi triamcinolone acetonide intralesi (kelompok perlakuan) dengan monoterapi injeksi triamcinolone acetonide intralesi (kelompok kontrol) pada pasien keloid. Sampel terdiri dari 13 pasien keloid untuk kelompok perlakuan dan 13 pasien keloid untuk kelompok kontrol yang telah memenuhi semua kriteria inklusi dan bersedia untuk mengikuti penelitian. Kriteria inklusi berupa pasien keloid baru atau lama, usia 15-64 tahun, tidak dalam pengobatan injeksi triamcinolone acetonide intralesi selama 4 minggu terakhir, relaps dari terapi keloid sebelumnya, kondisi umum baik dan mau mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah pasien keloid di wajah, ukuran keloid lebih dari 1% area permukaan kulit, pasien dengan penyakit sistemik yang membutuhkan terapi imunosupresi, pasien dengan infeksi kulit, diabetes melitus, hamil dan menyusui, pasien mendapat terapi laser CO2 dalam 6 bulan terakhir.

Biopsi 4 mm dilakukan sebelum dan 3 minggu setelah terapi, densitas kolagen adalah proporsi serat kolagen pada satu lapang pandang menggunakan pewarnaan Masson’s trichrome dengan 400 kali pembesaran. Injeksi triamcinolone acetonide intralesi menggunakan dosis 10 mg/ml, dilakukan 2 x dengan jeda 3 minggu. Laser fraksional CO2 menggunakan mode fraksional dengan energi 10-20 mJ, laser diberikan 1 kali ke kelompok perlakuan sebelum injeksi triamcinolone acetonide intralesi.

Penelitian ini diikuti lebih banyak pasien wanita daripada laki-laki, dengan usia terbanyak 15-24 tahun, kebanyakan pasien menderita keloid lebih dari 4 tahun dan sebanyak 17 pasien sudah pernah mengobati keloidnya, namun hanya 9 pasien yang mengobati dengan pengobatan stander injeksi triamcinolone acetonide intralesi.

Densitas kolagen pada kelompok kontrol dan perlakuan turun secara signifikan (p= 0,008 & p= 0,001). Perbedaan penurunan densitas kolagen antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan tidak signifikan (p= 0,328).

Pemeriksaan histopatologis jarang dilakukan dalam penelitian keloid, kebanyakan hanya menggunakan skor penilaian skar. Penelitian ini mencoba untuk membuktikan bahwa triamcinolone acetonide dan terapi kombinasi dapat menurunkan kepadatan kolagen. Triamcinolone secara signifikan menurunkan kepadatan kolagen pada kelompok kontrol dan terapi kombinasi, tetapi perbedaan degradasi tidak signifikan. Hal ini dapat disebabkan karena terapi laser dilakukan hanya sekali dan waktu evaluasi hanya 6 minggu setelah perawatan.

Triamcinolone acetonide dapat menekan proliferasi fibroblas dan meningkatkan degenerasi fibroblas, sehingga mengurangi produksi kolagen. Triamcinolone acetonide juga memiliki efek vasokonstriksi yang mengurangi vaskularisasi keloid. Laser fraksional CO2 menurunkan densitas kolagen dengan meningkatkan proliferasi fibroblas. Kedalaman MTZ yang dibentuk oleh laser fraksional CO2 sekitar 400μm dapat mencapai dermis papiler, sehingga MTZ dapat menjadi depot dan membantu distribusi triamcinolone acetonide yang disuntikkan. Kepadatan kolagen menurun lebih signifikan setelah terapi kombinasi laser fraksional CO2 dan injeksi triamcinolone acetonide intralesi hanya dalam evaluasi 6 minggu (1 laser dan 2 kali injeksi triamcinolone acetonide) daripada setelah hanya injeksi triamcinolone acetonide saja, sehingga terapi kombinasi memberikan efek sinergis.

Densitas kolagen turun secara signifikan dalam waktu yang lebih pendek pada keloid yang diterapi laser fraksional CO2 dan injeksi triamcinolone acetonide intralesi, menunjukkan bahwa terapi kombinasi memberikan hasil yang baik. Laser fraksional CO2 memberikan efek sinergis terhadap injeksi triamcinolone acetonide intralesi. Terapi kombinasi adalah terapi yang efektif untuk keloid dan dapat menjadi terapi alternatif dari monoterapi injeksi triamcinolone acetonide intralesi. Monoterapi injeksi triamcinolone acetonide intralesi tetap menjadi terapi keloid utama, karena terapi kombinasi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan monoterapi injeksi triamcinolone acetonide intralesi.

Penulis: M.Yulianto Listiawan

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.pagepress.org/journals/index.php/dr/article/view/8032M.

M. Yulianto Listiawan, Dwi Murtiastutik, Willy Sandhika, Brama Rachmantyo, Putri Hendria Wardhani (2019). Comparison between fractional CO2 laser-triamcinolone injection combination therapy and triamcinolone injection monotherapy for keloid. Dermatology Reports, 11(s1): 8032;

https://doi.org/10.4081/dr.2019.8032

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu