Metode Diagnostik Menggunakan Darah pada Kertas Saring

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh myworld

Komitmen kuat pemerintah, pengobatan multidrugs, dan usaha lainnya menghasilkan perkembangan signifikan pada eliminasi leprosi, namun kasus baru terus muncul. Indonesia tetap menjadi satu dari tiga negara (bersama India dan Brazil) yang dilaporkan > 10.000 kasus baru di 2016. Leprosi adalah penyakit infeksi kronis, prevalensinya pada populasi anak menunjukkan transmisi berkelanjutan dari dewasa dan kurangnya kontrol penyakit dari sistem kesahatan. Keadaan ini menunjukkan kebutuhan untuk terus mengembangkan metode yang akurat, dapat dilakukan dengan mudah untuk pasien umur berapapun, dapat dilakukan dimana saja, dan dapat memprediksi perkembangan leprosi di individu asimtomatik yang rentan (household contacts/HHC).

Berdasarkan pedoman nasional, diagnosis leprosi di Indonesia masih berdasar dari keluhan dan gejala klinis. Metode ini tidak efisien dan dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dikarenakan keluhan dan gejala yang jelas biasanya hanya tampak pada penyakit yang sudah lanjut. Pemeriksaan serologis untuk diagnosis leprosi adalah salah satu alat yang dapat mendiagnosis bahkan memprediksi adanya Mycobacterium leprae (M.leprae) baik pada pasien dengan leprosi klinis atau HHC yang rentan dan terinfeksi namun belum menunjukkan gejala atau keluhan.  Deteksi antibodi imunoglobulin M (IgM) untuk phenolic glycolipid (PGL-1), komponen dinding sel dari M.leprae, melalui enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA) telah banyak digunakan dan terbukti mendukung diagnosis leprosi, namun kepositifan anti PGL-1 terbatas pada pasien dengan jumlah basil yang tinggi (multibasiler/MB), sehingga metode ini kurang baik untuk deteksi dini. Baru-baru ini ditemukan potein antigenik asam nukleat M.leprae (ML0405 dan ML2331). Antigen ini memiliki kespesifikan yang tinggi terhadap M.leprae dan secara signifikan bereaksi terhadap antibodi imunoglobulin G (IgG) pasien dengan jumlah basiler yang rendah (pausibasiler/PB).

Fusi dari protein ini telah dipelajari oleh Leprosy Infectious Disease Research Institute Diagnostic-1 (LID-1) dan terbukti dapat meningkatkan sensitivitas tes serologis berbagai spektrum klinis. Penelitian lebih lanjut juga menemukan bahwa konjugasi dari epitope LID-1 dan PGL-1 di ELISA dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan diagnostik. Konjugat ini dikenal dengan Natural Octyl Disaccharide- Leprosy IDRI Diagnostic-1 (NDO-LID-1). Kepositifannya baik pada pasien dan non pasien MB mendukung peran untuk diagnosis keseluruhan spektrum leprosi, termasuk populasi dengan risiko tinggi mengalami penyakit klinis yang membutuhkan evaluasi secara berkala.


Penggunaan sampel darah kapiler pada kertas filter untuk mengukur kuantitatif IgM untuk PGL-1 M.Leprae menunjukkan korelasi signifikan dengan sampel serum sehingga berguna untuk pemeriksaan diagnostik. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas penggunaan sampel darah kapiler pada kertas filter untuk deteksi kepositifan antibodi IgG untuk antigen NDO-LID1 pada HHC asimtomatik.

Penelitian ini menggunakan 12 sampel sera dan darah kapiler dari HHC pasien leprosi di Poli Dermatologi Venereologi RSUD dr. Soetomo Surabaya. HHC adalah individu yang hidup bersama pasien selama paling tidak 5 tahun. Sampel darah diambil sesuai dengan persetujuan etik dan pasien. Darah 5 ml diambil dengan venipuncture (vena antecubital), lalu serum diambil dengan sentifuge 2 ml sampel. Sampel darah kapiler diambil dari ujung jari ketiga atau keempat bagian falang distal pada tangan yang tidak dibuat menulis, menggunakan lancet dan kemudian dipindah ke kertas saring tanpa mengenai permukaan ujung jari secara langsung, kertas saring dibiarkan kering. Untuk elusi titik darah yang mengering, kertas saring dipoting hingga menjadi bagian kecil lalu diletakkan di tabung 1,5 ml, tabung kemudian diisi dengan larutan PBS, sampel kemudian dapat diperiksa. Kemudian diperiksa dengan pemeriksaan kuantitatif ELISA indirek dengan ambang serologi untuk respons positif dianggap OD > 0,031

Tujuhbelas sampel sera dan darah kapiler pada kertas saring dari HHC diperiksa menggunakan ELISA untuk menentukan tingkat antibodi IgG untuk NDO-LID-1. Kedua kelompok menunjukkan persentasi yang hamil sama pada hasil ELISA positif (9/17, 52.9%). Kadar rata-rata antibodi IgG dari sampel darah perofer lebih render dari sera (x̅=0.046 and 0.049), namun tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0.754). 

Penelitiaan ini mengevaluasi efektivitas penggunaan darah kapiler dan kertas saring sebagai sampel untuk pemeriksaan diagnostik atau deteksi awal. Prosedur ini nyaman unuuk pasien dan mudah dikirimkan sehingga dapat meningkatkan aktivitas rujukan. Penelitian ini menunjukkan bahwa deteksi kadar anti-NDO-LID-1 menggunakan sampel darah kapiler pada kertas saring sama efektifnya dengan menggunakan serum dari venipuncture (p=0,754). Penelitian serupa oleh Prakoeswa dan kawan-kawan pada 2007 juga menunjukkan efektifitas penggunaan kertas saring untuk deteksi IgM anti-PGL-1 pada 30 pasien leprosi. PGL-1 dan NDO-LID-1 telah diakui spesifik untuk M.leprae, menunjukkan potensi besar untuk mengidentifikasi HHC yang terinfeksi dan individu dari populasi umum yang terinfeksi M.leprae. Seharusnya reagen yang mengkonjugasikan kedua antigen ini akan meningkatkan sensitivitas deteksi antibodi untuk M.leprae.

Penggunaan kertas filter dan NDO-LID-1 berguna untuk pemeriksaan lebih lanjut, terutama dengan jumlah basil rendah atau kontak dengan pasien leprosi. Harapannya penelitian dengan desain yang lebih baik di masa depan dan sistem rujukan yang lebih baik dan metode diagnostik dapat ditegakkanya untuk keberhasilan eradikasi leprosi.

Penulis: M.Yulianto Listiawan

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.researchgate.net/publication/332297635_A_simpler_diagnostic_method_using_blood_collection_on_filter_paper_to_determine_anti-natural_octyl_disaccharide-leprosy_infectious_disease_research_institute_diagnostic_in_household_contacts_of_lepros

Meva Nareza Trianita, Bayu Bijaksana Rumondor,
Anisha Callista Prakoeswa, Iswahyudi, Dinar Adriaty,
Bagus Haryo Kusumaputra,
Muhamad Yulianto Listiawan,
Indropo Agusni, Shinzo Izumi, Malcolm Duthie (2019). A simpler diagnostic method using blood collection on filter paper to determine anti-natural octyl disaccharide-leprosy infectious disease research institute diagnostic in household contacts of leprosy patients. Dermatology Reports, 11(s1): 8048;

https://doi.org/10.4081/dr.2019.8048

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu