Inovasi Baru Bentuk Sediaan Vitamin A

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sumber vitamin A. (Sumber: DokterID)

Vitamin A adalah zat gizi penting yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi penglihatan, pertumbuhan, dan peningkatan daya tahan tubuh. Imdad dkk (2010) melaporkan bahwa vitamin A tidak dapat disintesis oleh tubuh, maka sumber vitamin A bagi tubuh diperoleh melalui makanan ataupun suplemen.

Sumber vitamin A pada makanan banyak diperoleh di hati ayam, hati sapi, ikan, susu, keju, yoghurt, mentega, sereal, dan juga sayuran yang berwarna kuning atau merah, di antaranya wortel, serta buah-buahan terutama yang berwarna kuning seperti papaya, manga, dan ciplukan. Kecukupan asupan vitamin A dapat dipenuhi dari beragam sumber makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Namun, pada kondisi tertentu (hamil dan menyusui), kebutuhan akan asupan vitamin A sering kali tidak cukup hanya dengan mengkonsumsi makanan harian. Hal ini memerlukan tambahan asupan dalam bentuk suplemen, di antaranya kapsul vitamin A dosis tinggi.

Kekurangan asupan vitamin A disebut dengan defisiensi vitamin A atau lebih popular dengan istilah KVA (kurang vitamin A). Kasus defisiensi vitamin A merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian. Data yang dilaporkan oleh Imdad, dkk (2010) terkait dengan suplementasi vitamin A pada berbagai negara rawan mikronutrien bagi anak balita, dimaksudkan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat buruk dari defisiensi vitamin A.

Defisiensi vitamin A dapat terjadi karena kandungan vitamin A dalam makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan tubuh dalam jangka waktu yang lama atau karena absorpsi dan transpor vitamin A yang kurang baik dalam tubuh. Defisiensi vitamin A menimbulkan beberapa tanda khas seperti menurunnya ketahanan tubuh terhadap infeksi, keratinisasi, hambatan terhadap pertumbuhan, serta gangguan pada mata yaitu xeroftalmia yang dapat berujung pada kebutaan (Sumardjo, 2009).

Dengan tingginya prevalensi defisiensi vitamin A, perlu dilakukan berbagai upaya untuk mencegah dan mengatasi masalah gizi ini. Prinsip dasar pencegahan dan penanggulangannya yaitu menyediakan vitamin A yang cukup untuk tubuh, salah satunya dengan pemberian suplemen vitamin A. Vitamin A merupakan vitamin yang tidak larut air.

Terdapat beberapa masalah yang menghambat efektivitas vitamin A pada suplemen. Selama pencernaan, ester vitamin A dihidrolisis menjadi retinol oleh enzim pankreatik dan intestinal, kemudian diemulsifikasi oleh garam empedu membentuk misel hingga dapat diabsorpsi oleh sel-sel mukosa intestinal. Ketika terjadi gangguan pada enzim pankreatik dan intestinal, maka absorpsi vitamin A juga akan terganggu.

Menurut Zhang dkk. (2018), vitamin A sangat sensitif terhadap oksidasi, isomerisasi, dan polimerisasi saat berada dalam bentuk larutan dengan adanya cahaya dan oksigen, terutama pada suhu yang tinggi. Untuk mengatasi masalah pada vitamin A tersebut, pada penelitian ini dilakukan pengembangan sediaan vitamin A dalam bentuk nanoemulsi, yang ditujukan selain untuk P untuk meningkatkan absorpsi vitamin A menembus mukosa intestinal, juga untuk meningkatkan kestabilan vitamin A selama penyimpanan. (*)

Penulis: Anis Catur Adi

Kajian terkait dengan terobosan proses pembuatan sediaan vitamin dalam bentuk nanoemulsi, dapat dilihat pada artikel kami yang diterbitkan di majalsh Media Gizi Indonesia,  2019.14(1):1-13.

https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/9587

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu