Faktor yang Pengaruhi Status Imunisasi Anak di Dayak Pitap Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi imunisasi. (Sumber: halodoc)

Dayak Pitap berdiam di Kecamatan Tebing Tinggi di Kabupaten Balangan dan merupakan bagian dari Rumpun Besar Suku Dayak Meratus/Dayak Bukit yang mendiami lereng Pegunungan Meratus yang membentang di 8 Kabupaten di Kalimantan Selatan. Saat ini secara administratif, Dayak Pitap  mendiami 4 desa dan 1 anak desa yaitu desa Langkap, desa Ajung, desa Kambiyain, desa Iyam dan anak desa Panikin di desa Mayanau.

Cakupan imunisasi dasar anak usia 12 s/d 35 bulan di Dayak Pitap berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan pada bulan Januari – Maret 2017 adalah 34,3% dan 48 % penelitian lanjutan di tahun 2018.

Pada penelitian pendahuluan ini diperoleh informasi bahwa Dayak Pitap sudah mempunyai upaya pencegahan penyakit tradisional yang mungkin menjadi salah satu penyebab rendahnya cakupan imunisasi anak di sana (Hastutiningsih dan Soedirham, 2019). Salah satu upaya pencegahan tersebut adalah dengan cara memakaikan samban pada anak. Keyakinan terhadap upaya pencegahan ini merupakan implikasi dari keyakinan masyarakat terhadap  penyebab dari sakit itu sendiri.

Penyebab sakit yang diyakini masyarakat adalah penyebab nyata dan penyebab tidak nyata. Penyebab nyata seperti kepanasan, kedinginan, kehujanan dan kelelahan. Sedangkan penyebab tidak nyata seperti gangguan arwah leluhur, melanggar papantang, terkena guna – guna dan  kepuhunan serta penyebab supra natural lainnya.

Dari hasil analisis terhadap enam determinan faktor diperoleh ada tiga determinan faktor yang secara significant mempengaruhi status imunisasi anak di Dayak Pitap tersebut yaitu status imunisasi ibu ketika hamil, penolong persalinan dan pemakaian samban untuk anak (Hastutiningsih et al, 2019).

Sehingga untuk meningkatkan cakupan imunisasi anak usia 12 s/d 35 bulan di Dayak Pitap dapat diupayakan dengan meningkatkan cakupan imunisasi ibu ketika hamil (2 kali imunisasi tt) dan mengupayakan agar penolong persalinan adalah petugas kesehatan. Faktor ketiga yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi anak di Dayak Pitap adalah pemakaian samban oleh anak. Semua informan penelitian menyatakan bahwa setelah memakai samban anak memang jarang sakit. Kalau sakitpun hanya sakit ringan seperti batuk/flu. Sehingga imunisasi dirasakan oleh masyarakat tidak diperlukan lagi.

Samban adalah sejenis jimat yang dipakai sebagai kalung yang dipercayai oleh Dayak Pitap dapat melindungi anak dari gangguan roh penyebab penyakit.  Samban terbuat dari beberapa jenis bahan yang meskipun agak sulit dicari tapi bisa ditemukan di masyarakat Dayak. Sebagian besar jenis samban tidak terbuat dari bahan yang sakral atau bertuah, ini membedakan samban dengan jenis jimat lain yang biasa ditemui.

Ritual yang dilakukan ketika memakaikan sambanlah yang berfungsi  untuk memberi kekuatan pencegahan penyakit kepada anak yang memakainya. Kekuatan tersebut kemudian dibooster kembali pada ritual panen padi tahunan sampai samban dilepaskan dari leher anak.

Untuk merencanakan intervensi terhadap permasalahan ini tentulah diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya Dayak Pitap. Pencegahan penyakit tidak hanya tentang immune system tapi bagaimana agar immune system tersebut dapat bekerja dengan baik atau well-functioning immune system. Pemakaian samban merupakan salah satu psychosocialcultural aspects dari well-functioning immune system di Dayak Pitap. Samban harus dipandang sebagai suatu complement untuk program imunisasi bukan dianggap sebagai competitor.

Dalam upaya intervensi terhadap program imunisasi di Dayak Pitap, pendekatan budaya sangatlah diperlukan. Peningkatan cultural competence petugas kesehatan merupakan solusi utama sehingga petugas kesehatan dapat memberikan culturally competence care untuk keberhasilan program kesehatan di lokasi mereka bertugas. (*)

Penulis : Oedojo Soedirham

Artikel dapat diakses melalui: https://www.indianjournals.com/ijor_AdvanceSearch/summary.aspx?query=1&mode=gen

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu