“Akupunktur” Solusi Kembalikan Fungsi Reproduksi Hewan Pejantan Saat Global Warming

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh merdeka.com

Indonesia secara astronomis terletak antara 60°LU − 110°LS dan 95°BT − 141°BT. Secara geografis, terletak diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, diantara Benua Asia dan Benua Australia, terletak diantara garis equator yang melalui Pulau Kalimantan. Posisi strategis yang juga merupakan pertemuan dua rangkaian pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania. Hal−hal tersebut menyebabkan Indonesia menjadi negara beriklim tropis.

Perkiraan suhu udara menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia, berkisar antara minimum rata-rata di setiap provinsi adalah 22.95°C dan suhu udara maksimum rata-rata adalah 33.19°C. Apabila dilihat secara lebih spesifik, suhu udara Kota Surabaya setiap bulan berbeda−beda. Berdasarkan data BMKG Indonesia, diperoleh data suhu udara tahun 2019, yaitu berkisar antara 23−36°C dengan kelembaban udara 40−80 %.

Extreme heat merupakan suatu kondisi temperatur tinggi yang disebabkan oleh lingkungan, pemanasan, dan sinar matahari langsung. Extreme heat juga bisa disebut suhu tinggi abnormal yang memiliki potensi besar terjadi di Indonesia mengingat secara letak geografis berada pada iklim tropis. Purnama dkk menyebutkan, “keadaan panas yang tak menentu ini diperparah dengan minimnya ventilasi serta pemanasan global”.

Masalah infertilitas sering dihadapi oleh hewan dewasa dan bila tidak ditangani segera akan berdampak sterilitas pada organ reproduksi. Hasil riset dari Ashamu pada tahun 2010 menyebutkan bahwa 8% mencari bantuan medis untuk mengatasi gejala infertilitas. Gangguan infertilitas juga dialami oleh ternak yang bernilai ekonomis di Indonesia sehingga berdampak pada menurunnya kualitas dan kuantitas sektor peternakan. Salah satu penyebab infertilitas yang paling utama selain penyakit infeksi adalah disebabkan oleh suhu ekstrem akibat global warming yang mempengaruhi system reproduksi ternak.

Tim peneliti dari FKH Universitas Airlangga telah menemukan suatu terobosan untuk mengurangi efek extreme heat dengan metode akupunktur. Titik akupunktur pada wei-jian, ming-men dan sanyin-jiao merupakan pusat kendali organ reproduksi. Penelitian dilakukan dengan 20 ekor tikus jantan dewasa dengan diberi perlakuan extreme heat kemudian diterapi dengan akupunktur dengan durasi yang berbeda. Variable yang diamati adalah jumlah sel spermatogenik pada organ testis dan hormone testosterone.

Hasil penelitian membuktikan bahwa morfologi spermatozoa yang mayoritas normal, 70%-80% spermatozoa bergerak aktif, gerak individu progresif, dan konsentrasi densum. Gerak massa tampak seperti gelombang awan yang bergulung-gulung. Gerak individu progresif yang berarti setiap spermatozoa bergerak maju mengikuti arus pada pengamatan natif. Konsentrasi densum menggambarkan jarak rata-rata antar kepala spermatozoa lebih pendek dari panjang kepalanya dan kerapatannya sangat tinggi. Pengaruh pemberian extreme heat dapat mengurangi kualitas spermatozoa berupa penurunan jumlah gerak massa, gerak individu dan konsentrasi.

Hasil pada penelitian hewan yang hanya dipapar extreme heat tanpa pemberian terapi akupuntur, kualitas spermatozoa paling rendah dengan gerak massa kurang dari 20%, gerak individu mundur bahkan tidak bergerak, dan konsentrasi sangat sedikit. Terapi akupuntur yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas spermatozoa dapat dianjurkan yang tampak pada perbaikan gerak massa mencapai 70-80%, gerak individu kembali progresif, dan konsentrasi semi densum. Terapi akupuntur mengindikasikan adanya perbaikan dan regenerasi sel germinal sehingga penurunan kualitas spermatozoa sebagai dampak paparan extreme heat dapat dirangsang siklus pematangannya.

Stimulasi pada titik sanyin-jiao dapat mengembalikan temperatur suhu setelah mendapat paparan extreme heat. Akupuntur titik sanyin-jiao membuka orifisium dari pori-pori kulit, mendinginkan darah, membuka channel elektrolit dan homeostasis. Respon tubuh terhadap proses metabolisme akan kembali normal dengan stimulasi pada titik sanyin-jiao yang juga merupakan titik relaksasi.

Stimulasi pada titik wei-jian dan dibantu pada titik ming-men terutama di daerah intervertebrae dapat meningkatkan kinerja sistem reproduksi. Melalui titik ming-men dapat mengembalikan fungsi spermatogenesis dengan memperbaiki sel germinal yang telah rusak. Titik ming-men yang juga memegang kendali terhadap pengaturan rehidrasi dapat mendinginkan organ reproduksi dan ginjal.

Indikasi yang di dapat selain pada kembalinya fungsi reproduksi juga netralnya fungsi sel dalam menekan metabolisme setelah paparan extreme heat. Hormon testosteron merupakan hormon derivat kortikosteroid terutama pada hewan jantan. Hormon testosteron banyak dihasilkan oleh sel leydig. Melalui impuls yang ditimbulkan dari Interstitial Cell Stimulating Hormon (ICSH) yang dihasilkan hipofisis anterior maka akan menginduksi sel leydig untuk menghasilkan testosteron. Paparan extreme heat tidak mempengaruhi hipofisis anterior dan menekan sekresi ICSH sehingga produksi testosteron oleh sel leydig tetap berlangsung.

Penulis:Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si., Imas Hapsari Rahmaningtyas, Ainun Septia Putri, Angela Swasti Ivana Lee, Fachrun Nisa Tatimma, Herlina Masyitoh

Referensi:

http://ivj.org.in/users/members/viewarticles.aspx?Y=2019&I=794#

Purnama, M.T.E., Rahmaningtyas, I.H., Putri, A.S., Lee, A.S.I., Tatimma, F.N., Masyitoh, H. 2019. Acupuncture could increase spermatogonic cells in albino rats exposed to heat stroke. Ind. Vet. J., 96(10), 30-32.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu