Peserta Lembaga Bimbingan Belajar Meningkat. Apa Motivasinya?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI kelompok bimbingan belajar. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI kelompok bimbingan belajar. (Foto: Istimewa)

Indonesia adalah negara berkembang di dunia yang memiliki persoalan di bidang pendidikan. Secara umum, anak-anak Indonesia merasa terbebani dengan sistem ujian yang kurang mengakomodasi bakat dan minat siswa. Kurikulum yang disediakan cenderung memaksa siswa untuk belajar lebih keras, terutama menjelang ujian akhir.

Hasil ujian akhir memberikan porsi besar terhadap prestasi pelajar dan dapat menentukan nasib pelajar di jenjang berikutnya. Karena itu, pelajar harus menyediakan waktu belajar di luar sekolah. Selain itu, mereka harus menyelesaikan banyak tugas yang diberikan guru di sekolah. 

Fenomena tersebut ditangkap oleh pelaku usaha dengan mendirikan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) yang memberikan siswa kenyamanan belajar di luar sekolah. Secara statistik, di Indonesia, jumlah LBB meningkat setiap tahun. Sebagai contoh, di Jawa Tengah, pada tahun 2009 ada 113 LBB yang memiliki lisensi dari Direktorat Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pada tahun 2017 meningkat menjadi 162 LBB yang berlisensi. Pertumbuhan selama sembilan tahun sangat signifikan, yaitu mencapai 70 persen. LBB tidak hanya tumbuh dan berkembang di kota besar, tapi juga di ibu kota kabupaten.

Merujuk pada Direktorat Pengembangan Kursus dan Pelatihan Kemendikbud di Indonesia, sampai tahun 2017 terdapat 1.362 LBB di Indonesia berlisensi. Data tersebut belum, termasuk LBB yang tidak berlisensi. Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menyatakan bahwa 70.88 persen pelajar di Indonesia bergabung dengan LBB.

Jumlah pelajar yang bergabung pada LBB selalu meningkat tiap tahun, mengikuti pola pertumbuhan LBB. Selain itu, terdapat gejala musiman dari data peserta LBB. Jumlah peserta LBB cenderung meningkat sampai mencapai puncak tertinggi ketika menjelang ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi. Setelah kegiatan tersebut berlangsung, jumlah peserta LBB menurun dan meningkat lagi mulai seperempat masa tahun ajaran baru.

Pola yang demikian sesuai apabila dimodelkan dengan deret Fourier. Model yang dibentuk dapat digunakan untuk memprediksi peserta LBB pada periode akan datang. Data yang digunakan untuk memprediksi peserta LBB adalah data bulanan dari tiga LBB di Yogyakarta yang diproporsi. Data yang disusun terpisah tiap LBB dimodelkan serentak, karena terdapat korelasi peserta antar LBB yang tinggi. Hal tersebut logis karena setiap bimbingan belajar memiliki pola data yang sama. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa ke depan jumlah peserta yang bergabung pada bimbingan belajar masih memiliki pola peningkatan tiap tahunnya, disertai dengan pola periodik yang terjadi bulanan. Model prediksi sangat baik karena memiliki ukuran kebaikan yang sudah sesuai dan model tersebut sangat sederhana.

Penelitian ini juga tidak hanya memprediksi, peserta LBB pada periode yang akan datang, tapi juga mengetahui indikator signifikan yang mempengaruhi motivasi pelajar untuk bergabung pada suatu LBB. Structural Equation Modelling (SEM) digunakan untuk menentukan indikator yang secara signifikan mempengaruhi motivasi pelajar untuk bergabung dengan LBB, berdasar kuesioner. Ada 400 pelajar yang bergabung dalam satu dari tiga LBB, dipilih secara acak untuk mengisi kuesioner. Pertanyaan yang diberikan terkait tujuh dimensi, yaitu fasilitas, reliabilitas, pelayanan, jaminan, empati, dan motivasi. Lebih dari 50 persen pelajar puas dengan segala dimensi yang diukur. Hal tersebut didukung oleh hasil analisis SEM.

Berdasar hasil analisis SEM, hubungan antara reliabilitas, jaminan, dan empati dengan motivasi signifikan untuk semua indikator penentunya. Hasil tersebut memenuhi ukuran kebaikan SEM. Dimensi reliabilitas mencakup layanan sesuai dengan iklan, pendalaman materi, latihan yang diberikan, waktu, dan biaya, dapat menumbuhkan motivasi pelajar bergabung dengan LBB. Misalnya, pendalaman materi dan latihan yang diperoleh di LBB lebih intensif dan fleksibel daripada di sekolah. Dimensi jaminan mencakup keyakinan berhasil, tutor yang kompeten dan berlisensi, pengalaman alumni yang sukses, pembangunan motivasi, dan peningkatan prestasi akademik dapat menumbuhkan motivasi pelajar bergabung dengan LBB.

Secara umum, pelajar membutuhkan keyakinan berhasil dalam pendidikan selanjutnya, cerita tentang pengalaman alumni yang sukses dan peningkatan motivasi. LBB memberikan porsi lebih besar daripada di sekolah. Dimensi empati yang meliputi kesabaran tutor, keramahan, perhatian, penampilan, dan sikap dapat menumbuhkan motivasi pelajar bergabung dengan LBB. Pelajar cenderung lebih komunikatif dan terbuka dengan tutor di LBB daripada dengan guru di sekolah. 

Permasalahan tersebut harus diatasi karena pusat pendidikan adalah sekolah, sementara LBB adalah pendukungnya. Pemerintah terkait melalui pengajar di sekolah dapat mengubah proses pendidikan menjadi lebih fleksibel dan ramah, serta mengakomodasi minat pelajar. LBB memberikan tutor kepada pelajar berdasar target, hanya pelajar yang memiliki nilai buruk dan kesulitan dalam menerima pelajaran di sekolah yang mengikuti LBB. Jadi, LBB menjadi lebih intensif untuk memberikan bantuan kepada pelajar. LBB harus berbagi porsi dengan sekolah melalui inovasi dengan digitalisasi sistem yang kurang sesuai jika diterapkan di sekolah. Misalnya, membuat aplikasi “e-PR” sebagai penuntun dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru di sekolah. Idealnya, para pembuat kebijakan dalam pendidikan perlu mengevaluasi proses dan sistem pendidikan di Indonesia tanpa ada kerugian dari pihak mana pun untuk pencapaian pendidikan yang lebih baik di masa depan. (*)

Penulis: M. Fariz Fadillah Mardianto, S.Si, M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada artikel ilmiah berikut:

Prediction the Number of Students in Indonesia who Study in Tutoring Agency and Their Motivations based on Fourier Series Estimator and Structural Equation Modelling publish di International Journal of Innovation, Creativity and Change (IJICC), Volume 5, Issue 3, pp 708– 731 (Scopus Q3). Authors: M. Fariz Fadillah Mardianto, Sri Haryatmi Kartiko (UGM), Herni Utami (UGM) dengan link sebagai berikut:

http://www.ijicc.net/images/Vol_5_Iss_3/42_Mardianto_P708_2019R.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu