Mengungkap Daya Saing Film Lokal Dibanding Film Impor di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI membikin film. (Foto: unsplash.com)
ILUSTRASI membikin film. (Foto: unsplash.com)

Kemajuan teknologi telah mendorong persaingan indsutri film ke tingkat global. Film impor dapat masuk ke bioskop Indonesia dan bersaing dengan film lokal. Salah satu dampak negatifnya, yaitu dominasi film Impor di bioskop-bioskop Indonesia.

Berdasar data sensor film dan iklan film bioskop pada 2016, ada 158 judul dari 317 film lokal yang ditayangkan setelah lulus sensor dan 303 judul dari 606 film impor yang ditayangkan setelah lulus sensor. Selain itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia menyatakan bahwa film lokal hanya mendapatkan 35 persen market share dari total penonton Indonesia. Namun, ekosistem perfilman Indonesia tengah mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah penonton yang meningkat secara konsisten.

Berdasar data dari Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangfilm Kemdikbud) Indonesia, jumlah penonton film lokal pada 2015 sebanyak 16,2 juta penonton. Kemudian, meningkat lebih dari 100 persen pada 2016 sebanyak 37,2 juta penonton. Pada tahun 2017 meningkat lagi dengan jumlah penonton sebanyak 42,65 juta penonton dan mencapai 42,73 juta penonton pada tahun 2018.

Bukan hanya itu, kualitas film Indonesia juga membaik, ditandai dengan beberapa film Indonesia yang meraih jutaan penonton dan diakui internasional. Tercatat, sebanyak lebih dari delapan film Indonesia diakui internasional pada 2017. Tren positif ini terus berlanjut meskipun layanan media streaming digital semakin bermunculan.

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan tren kemajuan film Indonesia, perlu dikaji lebih lanjut penyebab kemajuan tersebut sekaligus dominasi film impor di bioskop-bioskop Indonesia. Hasil dari penelitian tersebut dapat digunakan sebagai referensi untuk para pelaku industri film, pengusaha bioskop dan pemerintah dalam mendukung produk film lokal agar dapat bersaing dengan film impor.

Penelitian tersebut membandingkan daya saing film lokal dan film impor di Indonesia serta faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih film. Data yang digunakan adalah data primer melalui survei online yang meliputi informasi sosiodemografi, ketertarikan terhadap film lokal atau impor, serta minat, perilaku, dan motivasi penonton untuk film lokal maupun film impor.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat menonton film impor lebih besar dibanding menonton film lokal. Hal itu didukung dengan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih film yang akan ditonton serta perilaku masyarakat sebelum menonton film.

Structural Equation Modelling (SEM) digunakan untuk menentukan indikator secara signifikan faktor-faktor mempengaruhi film lokal maupun film impor. Pertanyaan yang diberikan terkait preferensi masyarakat terhadap film, faktor-faktor film lokal, dan factor-faktor film impor. Persaingan antara film lokal dan impor dapat dinilai dari berbagai aspek.

Berdasar hasil analisis, diketahui bahawa minat masyarakat terhadap film impor lebih besar daripada minat terhadap film lokal. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya saing film ini adalah genre, kualitas yang disukai dan tidak disukai serta aspek kualitas meliputi akting, naskah, plot cerita, pengambilan adegan, animasi, visual effect, dan audio. Beberapa aspek kualitas yang menyebabkan dominasi film impor, yaitu naskah, audio, pengembangan karakter, pengambilan adegan, visual dan kualitas gambar serta animasi. Sedangkan, aspek kualitas yang menonjol dari film lokal yaitu akting para pemeran dan pesan moral.

Film impor mendominasi di genre terkait aksi, petualangan, fantasi, fiksi ilmiah, musikal, thriller, action, dan animasi. Sedangkan, film lokal dengan genre komedi, romansa, drama, dan sejarah atau biografi tokoh lebih digemari. Media promosi film juga menjadi salah satu faktor daya saing film lokal dan film impor. Promosi film melalui post di media sosial oleh pemeran dan melalui Adlips pada suatu event atau program TV lebih efektif sebagai promosi untuk film lokal dibandingkan dengan film impor.

Persaingan film lokal dan film impor di Indonesia sangat ketat. Indonesia harus melakukan suatu inovasi baru untuk meingkatkan daya saing dan kualitas film lokal. Mengembangkan kurikulum di Indonesia yang terkait dengan perfilman dengan beberapa kompetensi, yaitu siswa mampu membuat dan mengembangkan sebuah karakter, menulis sebuah narasi atau naskah dialog, serta mengerti proses dan teknologi yang digunakan dalam pembuatan film.

Selain mengembangkan kurikulum di Indonesia, pemerintah diharapkan dapat mengadakan festival film dan pemeran film di tingkat provinsi dan daerah dalam rangka mencari talent yang potensial, baik sebagai penulis naskah, sutradara, pemain film maupun posisi lainya melalui sekolah-sekolah. Terutama sekolah perfilman di Indonesia.

Dengan mengangkat cerita lokal dan budaya Indonesia untuk direpresentasikan dalam bentuk sebuah film dengan pemasaran yang intensif dapat mengangkat film Indonesia mendunia.

Penulis: M. Fariz Fadillah Mardianto, S.Si, M.Si 

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada artikel ilmiah berikut : Comparative Analysis of The Competitiveness between Indonesian Movies against International Movie, as a Reference in Developing Indonesia’s Cinema and Curriculum about Cinematography published in International Journal of Innovation, Creativity and Change (IJICC), Volume 5, Issue 3, pp 685–707  (Scopus Q3).

Authors: M.Fariz Fadillah Mardianto, Disty Ridha Hastuti, Devayanti Anugerahing Husada, Raka Andriawan dengan link sebagai berikut: http://www.ijicc.net/images/Vol_5_Iss_3/41_Hastuti_P685_2019R.pdf 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu