Ekonom UNAIR Ulas Cara Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – “Kebijakan Makroprudensial perlu bersinergi dengan kebijakan Mikroprudensial dalam menjaga SSK agar semakin sehat, untuk mengantisipasi berbagai gejolak ekonomi atau krisis global yang terjadi secara tidak terduga di masa yang akan datang,” ungkapnya.

Begitulah potongan pernyataan Lina Nugraha Rani S.E., M.SEI., saat membahas seputar hasil risetnya mengenai “Indikator Makropudensial Terpenting dalam Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia”. Menurutnya, dalam menjaga stabilitas keuangan, Indonesia menggunakan dua indikator pengukuran stabilitas sistem keuangan yakni mikroprudensial dan makroprudensial.

“Indikator makroprudensial diantaranya pertumbuhan ekonomi, balance of payment, tingkat inflasi, suku bunga dan nilai tukar, contagion effect atau efek menular krisis, serta faktor-faktor lain,” jelasnya.

Berdasarkan hal tersebut, lanjutnya, perlu dilihat manakah indikator makro prudensial terpenting  dalam pengukuran stabilitas sistem keuangan dari perspektif praktisi keuangan dan perbankan. Setelah melakukan hal tersebut, ia menegaskan bahwa pemerintah diharapkan mampu mengetahui apa sesungguhnya indikator utama stabilitas keuangan dari realitas yang dihadapi.

“Serta mendapatkan  rekomendasi yang tepat untuk ditawarkan dalam kerangka stabilitas sistem keuangan,” paparnya.

Selanjutnya, ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan hasil wawancara dengan pakar atau praktisi perbankan yang dianalisa menggunakan ANP, ditemukan 3 indikator terpenting stabilitas sistem keuangan dalam aspek makroprudensial. Ketiga indikator tersebut, jelasnya, adalah Utang, Makroekonomi, dan Neraca pembayaran. 

“Berdasarkan hasil wawancara dan analisis data, utang lancar memilki hubungan yang kuat terhadap pemeliharaan stabilitas sistem keuangan di Indonesia,” ungkapnya.

Pada akhir, ia juga memaparkan bahwa pelunasan utang jatuh tempo dengan segera akan cukup membantu untuk menjaga stabilitas keuangan di Indonesia. Keputusan pengambilan utang dan strategi pelunasannya harus diatur sedemikian rupa agar tidak menggangu stabilitas sistem keuangan di Indonesia.

“Hal ini lebih relevan dengan teori krisis keuangan generasi ketiga yang menyebutkan bahwa ketergantungan antarnegara dapat memberikan peranan terhadap krisis ketika ketidakmampuan suatu negara untuk membayar utang luar negeri,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Khefti Al Mawalia

Artikel ini ditulis berdasarkan artikel ilmiah dengan alamat link jurnal lengkap bahasan artikel: https://jurnalekonomi.lipi.go.id/JEP  atau  https://jurnalekonomi.lipi.go.id/JEP/article/view/254 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu