dr. Afif Nurul Teliti Resistensi Antibiotik Cefixime terhadap Bakteri Penyebab Gonore

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – “Penelitian ini membuktikan adanya resistensi bakteri penyebab Gonore terhadap antibiotik cefixime melalui metode difusi.” Begitulah petikan simpulan dari riset yang dilakukan oleh Dr. Afif Nurul Hidayati dr.,Sp.KK, FINS-DV, FAADV., tentang Resistensi Antibiotik Cefixime terhadap Bakteri Penyebab Gonore.

Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa gonore atau yang disebut juga dengan kencing nanah masih menjadi masalah kesehatan di bidang infeksi seksual menular (IMS). Hal itu, jelasnya, sering ditemui pada negara berkembang dan merupakan IMS terbanyak kedua di dunia. Menurutnya, kejadian gonore meningkat setiap tahunnya. Tidak hanya itu, gonore merupakan IMS yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang memerlukan terapi antibiotik, namun didapatkan angka resistensi antibiotik yang meningkat pada bakteri penyebab gonore.

“Resistensi terhadap penicilin, tetrasiklin, dan golongan kuinolon meningkat sehingga tidak direkomendasikan untuk menjadi terapi gonore di beberapa negara,” ungkapnya.

Selanjutnya, dr. Afif Nurul mengatakan, metode untuk tes mengukur sensitivitas dapat dilakukan dengan beberapa teknik. Metode yang paling sering digunakan yaitu berdasarkan Clinical Laboratory Standard Institute(CLSI) dengan teknik difusi dan dilusi disk atau cakram. Metode lainnya, sambungnya, berdasar National Committee for Clinical Labroratory Standards (NCLLS)  yaitu dengan menggunakan teknik Etest yaitu diilusi strip antibiotik untuk mengetahui MIC.

“Teknik difusi cakram oleh CLSI dinilai lebih efisien untuk negara dengan keterbatasan fasilitas selain itu dinilai lebih murah, dan mudah diaplikasikan,” tandasnya.

Pada akhir, ia menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan, menguji 20 sampel isolat Neisseria gonorrhoeae yang diambil dari pasien dengan keluhan duh tubuh purulen yang datang ke tujuh pusat kesehatan masyarakat (Puskesma) di Surabaya. Desain penelitian itu, ungkapnya, adalah penelitian deskriptif observasional laboratorium belah-lintang, periode bulan Juni 2017–September 2017.

“Hasil penelitian ini menemukan 7 dari 20 sampel isolat Neisseria gonorrhoeae (35%) tidak sensitif terhadap antibiotik cefixime. Dengan rincian, 3 mempunyai area inhibisi 6 mm, 1 mempunyai area inhibisi 25 mm, 1 mempunyai area inhibisi 26 mm, 1 mempunyai area inhibisi 29 mm, dan 1 mempunyai area inhibisi 30 mm,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Khefti Al Mawalia

Referensi:

https://www.pagepress.org/journals/index.php/dr/article/view/8060

Rositawati, A., Sawitri, S., & Hidayati, A.N., (2019). Neisseria gonorrhoeae resistance test against cefixime in gonorrhea patients in Surabaya. Dermatology Reports11(1s). https://doi.org/10.4081/dr.2019.8060

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu