Dosen FST UNAIR Manfaatkan LINAC Untuk Terapi Kanker

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Dewasa ini metode terapi dengan radioterapi telah banyak diaplikasikan, salah satunya pada terapi kanker. Dalam risetnya mengenai “Terapi Kanker Melalui LINAC”, Dr. Suryani Dyah Astuti, M.Si., terlebih dahulu memaparkan bahwa radioterapi memanfaatkan radiasi pengion seperti sinar X, radiasi gamma atau elektron berenergi tinggi untuk mematikan sel kanker sebanyak mungkin dan sesedikit mungkin memberikan efek negatif pada jaringan sehat di sekitarnya.

Tidak hanya itu, Dr. Dyah juga menjelaskan bahwa, terdapat radioterapi yang menggunakan radiasi dari luar tubuh pasien yakni radiasi eksternal. Radiasi eksternal dapat menggunakan pesawat Linear Accelerator (LINAC) atau pesawat Cobalt-60 yang umumnya dapat memancarkan foton atau elektron dengan energi sebesar 6 MeV atau 10 MeV.

Selanjutnya, Dr. Dyah menjelaskan bahwa prinsip kerja LINAC yaitu mempercepat elektron sehingga energi kinetiknya bertambah dari 4 MeV menjadi 25 MeV. Yang di dalamnya, elektron dipercepat mengikuti lintasan yang lurus pada struktur khusus yang dinamakan Accelerating waveguide. LINAC juga dilengkapi dengan beberapa pilihan berkas radiasi, yaitu berkas elektron dan foton.

“Sistem control pada foton maupun elekron yang dihasilkan oleh Linac menggunakan sistem kontrol dengan komputer, sistem pemindai tubuh dengan menggunakan Electronic Portal Imaging Device (EPID), pengaturan dosis radiasi dengan menggunkan Multi Leaf Collimator (MLC) dan pengaturan dosis sepenuhnya menggunakan modulasi intensitas. Teknologi Treatment Planning System (TPS) pada linac menggunakan kalkulasi 3D dengan sistem MLC yang dapat menghasilkan bentuk yang presisi pada treatment radiasi volume target”, jelasnya.

Dalam risetnya, Dr. Dyah juga mengulas tentang terapi LINAC yang dilakukan dengan memaksimalkan distribusi dosis pada kanker serviks dan meminimalkan distribusi dosis pada organ sehat di sekitarnya yaitu bladder dan rectum. Dimana, bladder dan rectum merupakan organ kritis di sekitar serviks yang berisiko terkena radiasi yang disebut juga sebagai Organ at Risk (OAR).

“Dosis efektif adalah dosis radiasi yang mempertimbangkan faktor bobot jaringan yang dikenai radiasi dan faktor bobot radiasi dari berbagai sumber radiasi. Masing-masing sumber radiasi memiliki faktor bobot radiasi yang berbeda-beda”, paparnya.

Selain itu, pemberian dosis yang berlebihan pada OAR akan menyebabkan efek kerusakan pada jaringan penyusunnya. Setiap OAR memiliki dosis toleransi masing-masing tergantung dari sensitivitas jaringan penyusun organ tersebut.

“Sehingga, akurasi penetapan dosis mutlak diperlukan dalam terapi menggunakan LINAC”, terangnya.

Pada akhir, Dr. Dyah juga mengatakan dosis radiasi bladder dan rectum tidak boleh melampaui toleransi dosisnya. Sehingga, sambungnya, dosis bladder dan rectum dapat dievaluasi dengan melihat dosis keduanya pada Dose Volume Histogram (DVH) bladder dan rectum 2cc (D2cc).

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Khefti Al Mawalia

Referensi :

https://www.researchgate.net/publication/333584707_Brachytherapy_Treatment_Planning_and_Linac_for_Dose_Measurement_of_Bladder_and_Rectum_in_Cervical_Cancer_Patients

Suryani Astuti, Nurul Fitriyah, Gege Ayu Listya, Bambang Haris Suhartono. 2018. Brachytherapy Treatment Planning and Linac for Dose Measurement of Bladder and Rectum in Cervical Cancer Patients. Conference: 2018 3rd International Seminar on Sensors, Instrumentation, Measurement and Metrology (ISSIMM)

https://ieeexplore.ieee.org/abstract/document/8727731

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu