Pengobatan Tradisional Indonesia Sulit Berkembang, Mahasiswa Battra UNAIR Belajar Ke Malaysia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MAHASISWA Battra UNAIR sedang siskusi bersama Dr. Theo di National Cancer Institute Malaysia. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Pengobatan tradisional yang ada di Indonesia saat ini masih mengalami kesulitan untuk berkembang utamanya dalam pelayanan kesehatan modern. Masalah tersebut dikarenakan masih terbatasnya izin praktik pengobatan tradisional dan kualifikasi praktisi pengobatan tradisional.

Guna mengatasi masalah tersebut, sepuluh mahasiswa Prodi Pengobatan Tradisional (Battra), Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga melakukan Student Outbond ke International Medical University (IMU). Mereka melakukan student outbond pada 14-18 Oktober 2019.

Mareta Sari, salah seorang perwakilan mahasiswa Battra yang mengikuti student outbond mengungkapkan masalah pelayanan pengobatan tradisional di Indonesia masih tertinggal jauh dengan Malaysia. Salah satu perbedaannya adalah ketika pemerintah mampu menunjang peralatan kemoterapi serta tahap pemulihan yang berjenjang.

“Salah satu perbedaan yang dapat terlihat adalah penanganan pasien saat setelah kemoterapi di sana (Malaysia, Red) dilakukan tindakan akupuntur,” ungkapnya.

Selain itu, mahasiswa dan perawat pengobat tradisional di Indonesia masih belum mampu menerima tindakan akupuntur kepada pasien. Hal tersebut masih dianggap sebagai tindakan non ilmiah yang masih perlu dipertimbangkan kembali.

Sebagai langkah memajukan pengobatan tradisional di Indonesia, mereka akan berkolaborasi dengan puskesmas terkait pengobatan tradisional. Pada lingkungan kampus, mereka juga akan mengusulkan penambahan fasilitas seperti pendeteksi syndroma, alat cek nadi, dan fasilitas lain untuk menunjang praktikum.

Sepuluh mahasiswa battra pada kesempatan tersebut juga diajak untuk melihat fasilitas lab praktikum yang ada di IMU.  Kesempatan untuk mencoba beberapa alat praktikum juga mereka dapatkan yang belum terdapat di Indonesia.

Tidak hanya itu, mereka juga melakukan pembelajaran di Rumah Sakit Thung Shin Hospital yang merupakan salah satu rumah sakit menerapkan akupuntur, pengobatan herbal, dan pijat tuina. Pelayanan yang diberikan kepada pasien khusus nya pasien pasca kemoterapi di Institut Kanser Negara menjadi referensi selanjutnya yang didapat pada kesempatan tersebut.

Myrna Adianti, S.Si., M.Kes., Ph.D selaku  dosen pendamping sepuluh mahasiswa battra itu mengungkapkan, ilmu yang didapat sangat membantu kemajuan pengobatan tradsional di Indonesia. Pengobatan tradisional sudah saatnya menjadi penunjang kesehatan yang ramah terhadap masyarakat.

“Harapan tentunya para mahasiswa yang memiliki kesempatan ini mampu menerapkan ilmu serta pengalaman untuk memajukan pengobatan tradisional di Indonesia,” ujarnya.(*)

Penulis: Aditya Novrian

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu