Dr. Handoko Ungkap Fotodegradasi Rhodamin B

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Masih bersama dengan hasil riset dari Dr. Handoko Darmokoesoemo, Drs., DEA. Dosen FST Universitas Airlangga yang konsisten dalam berbagai penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, dosen yang akrab disapa dengan Handoko itu mengulas banyak hal seputar “Fotodegradasi Rhodamin B Menggunakan Katalis TiO2/NO3-@KT”.

Sebelumnya, dalam paparan risetnya, Handoko menjelaskan bahwa zat warna merupakan salah satu zat pencemar dalam lingkungan perairan yang dihasilkan dari berbagai aktivitas industri seperti industri tekstil, kertas, makanan, kosmetik dan industri cat. Residu dari penggunaan zat warna, ungkapnya, secara dinamis terus masuk ke lingkungan dan menyebabkan terjadinya pencemaran air.

“Dari semua jenis zat warna yang ada, rhodamin B  merupakan zat warna yang paling penting sebagai perwakilan dari pewarna xanthene,” tuturnya.

Rhodamin B, sambung Handoko merupakan zat beracun dan tahan terhadap biodegradasi dan fotolisis langsung. Karenanya, RhB memiliki efek merusak terhadap matriks lingkungan. RhB, ungkapnya, secara alami mengalami degradasi reduktif anaerob dan akan menghasilkan amina aromatik yang merupakan zat karsinogenik. 

“Untuk meminimalisasi dampak negatif dari RhB, maka dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini, metode Advanced Oxidation Processes (AOPs) dikembangkan sebagai suatu metode yang dianggap efektif dalam mendegradasi zat warna dalam limbah industri,” jelasnya.

Selanjutnya, Handoko juga menambahkan bahwa terdapat berbagai tipe metode AOPs yang ada seperti metode elektrokimia, ozonizasi, fotolisis, proses fenton dan fotokatalis yang sering digunakan untuk mendegradasi zat warna atau limbah tekstil. Dari berbagai jenis metode AOPs, sambungnya, fotokatalis  merupakan metode degradasi warna dari lingkungan perairan yang banyak dikembangkan.

“Karena terbukti memiliki berbagai kelebihan diantaranya, dapat digunakan untuk pengelolaan limbah non-biodegradabel, biaya pengoperasisan dan instalasi sistem pengelolaan limbah yang murah, dapat dijalankan oleh unprofessional person, dan dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti adsorpsi maupun metode lumpur aktif,” ujar Handoko. 

Pada akhir, di dalam risetnya ia juga mengatakan bahwa salah satu material yang paling sering digunakan dalam sistem fotokatalis adalah titanium dioksida (TiO2). TiO2, ujar Handoko, umumnya digunakan dalam sistem fotokatalis dalam bentuk serbuk.

“Sebagai akibatnya proses fotodegradasi,menjadi kurang efektif, karena serbuk yang terdispersi dalam air sulit diregenerasi, sulit dipisahkan dari lingkungan pereairan dan diperlukan dalam jumlah banyak,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Khefti Al Mawalia

Referensi:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213343719306050?dgcid=author

Handoko Darmokoesoemo, Yantus A.B. Neolaka, Zakarias S. Ngara, Yosep Lawa, Johnson N. Naat, Didi Prasetyo Benu, Ahmed Chetouani, Hicham Elmsellem, Heri Septya Kusuma. Simple design and preliminary evaluation of continuous submerged solid small-scale laboratory photoreactor ( CS4PR ) using TiO2/NO3@TC for dye degradation. J. Environ. Chem. Eng. 7, 103482 (2019).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu