Benarkah Kearifan Lokal Indonesia Pengaruhi Asupan Makanan Ibu Hamil?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Kehamilan merupakan salah satu momen yang paling penting dalam kehidupan seorang wanita. Periode yang sangat krusial ini akan mempengaruhi pola hidup calon ibu, terutama asupan makanan yang dicernanya karena hal ini akan memberikan dampak pada kelahiran dan bahkan pada anak.

Gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil lebih tinggi dibandingkan wanita biasa, terutama dalam hal energy, protein, vitamin A, folat, kalsium, zat besi, hingga iodin. Rendahnya gizi ibu hamil dapat memompa risiko kelahiran prematur bahkan hingga perkembangan anak yang kurang optimal.

Indonesia yang memiliki masyarakat multikultural dengan beragam budaya dan kepercayaan sangat rentan menjadi faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan ibu hamil. Beberapa wilayah bahkan masih berpegang teguh pada budaya yang membatasi dan memberikan berbagai pantangan makanan terhadap ibu hamil. Selain budaya dan kepercayaan, kondisis sosial dan ekonomi juga menjadi faktor asupan ibu hamil.

Rian Diana, SP., M.Si dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga memutuskan meneliti hal ini untuk mencari tahu kebenarannya. Penelitian dengan metode kualitatif ini berfokus pada salah satu etnis di Indonesia yaitu Madura. Dilakukan di Kabupaten Sumenep, Rian melibatkan 67 informan dari empat latar belakang: ibu hamil, keluarga ibu hamil, tokoh masyarakat, dan dukun bayi. Penelitian dilakukan dengan dua cara yakni wawancara bersama 40 informan dan focus group discussion (FGD) bersama 27 informan lainnya.

Dari dua cara penelitian yang dilakukan, Rian mengatakan informan setuju bahwa etnis Madura pengaruhi pilihan asupan ibu hamil. Asupan yang dimaksud terdiri dari pangan hewani, sayuran, buah, hingga minuman. Masyarakat, sambungnya, cenderung menganggap tabu konsumsi cumi-cumi, udang, nanas, kol, dan air es yang manis. Makanan yang dianggap tabu ini dipercaya dapat memicu calon bayi akan memiliki sifat dan bentuk fisik dari hewan tersebut. Misalnya, mengonsumsi udang akan menyebabkan bayi sulit bahkan tidak mau keluar saat proses persalinan karena sifat udang yang suka bersembunyi.

Selain udang, tambah Rian, masyarakat khususnya di daerah Sumenep mepmercayai terong, kubis, jantung pisang, hingga cabai tidak baik dikonsumsi ibu hamil. Terong yang memiliki kulit halus, tebal, dan keras menimbulkan filosofi bahwa janin ibu hamil akan terbungkus ketuban dan mempersulit persainan.

“Ada lagi buah kedondong, nanas, salak, durian, dan rambutan yang menjadi pantangan bagi ibu hamil karena dianggap dapat menyebabkan keguguran dan panas di perut,” ujarnya.

Pada akhir, Rian mengatakan, sementara untuk makanan yang dianjurkan berdasarkan penelitian ini adalah nasi jagung, ikan pindang, ikan bandeng, ikan mujair, tempe-tahu, buah-buahan, daun kelor, dan air kelapa. Nasi jagung yang mengandung asam amino dianggap lebih baik dibanding nasi atau jagung saja. Pangan hewani yang dianjurkan juga merupakan pangan yang murah dan mudah dijangkau.

“Berdasarkan hasil studi ini, banyak makanan tabu yang diberlakukan untuk ibu hamil etnis Madura baik dengan alasan kesehatan ataupun budaya.Kearifan lokal terkait makanan anjuran yang beredar di masyarakat dapat menjadi informasi yang penting dan mendukung pendidikan gizi pada ibu hamil di Madura,” pungkas Rian menyimpulkan.

Penulis: Tsania Ysnaini Mawardi

Editor: Nuri Hermawan

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Journal of Ethnic Foods. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2352618118301446

Diana R, Rachmayanti RD, Anwar F, Khomsan A, Chistianti DF, Kusuma R.  (2018). Food Taboos And Suggestions among Madurese Pregnant Women: A Qualitative Study. Journal of Ethnic Foods 5(2018): 246-253. DOI Number: 10.1016/j.jef.2018.10.006

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu