Pengaruh Kadar Leukotrien pada Dermatitis Atopik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh wikipedia

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit keradangan kulit yang bersifat kronis residif. Prevalensi DA pada anak di seluruh dunia mencapai 15-20% sementara prevalensi pada dewasa sebesar 1-3%, dan keduanya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. DA masih menjadi masalah di bidang dermatologi yang cukup signifikan sampai saat ini, karena dapat menyebabkan rasa gatal yang mengakibatkan waktu tidur berkurang, mengganggu kualitas hidup pasien, serta menghabiskan waktu dan biaya untuk perawatan penyakit. 

Leukotrien (LT), suatu mediator inflamasi golongan fosfolipid derivat asam arakidonat telah diteliti berperan dalam patogenesis asma, rinitis alergi, dan DA (trias atopi). Salah satu kelas LT adalah Cysteinyl LT (CysLT), terdiri dari Leukotrien C4 (LTC4), Leukotrien D4 (LTD4), dan Leukotrien E4 (LTE4) yang merupakan mediator inflamasi poten. Produksi CysLT meningkat seiring keradangan pada proses atopi, mencerminkan aktivasi sel mast dan eosinofil dalam jaringan lesi. Kadar leukotrien E4 urin (U-LTE4) meningkat pada penyakit trias atopi, dan temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang mengukur kadar U-LTE4 pada pasien DA, dan terdapat korelasi signifikan antara kadar U-LTE4 dan gejala klinis (seperti derajat keparahan) dan juga penanda laboratorium pada DA misalnya kadar IgE serum dan hitung eosinofil absolut. 

Penggunaan kortikosteroid sebagai lini terapi DA terutama DA kronik dan residif menjadi suatu tantangan karena memiliki efek samping dan kemungkinan rebound yang tinggi. Antagonis reseptor leukotrien (LTRA) telah dilaporkan dapat digunakan untuk mengontrol gejala asma dan rinitis alergi, dan juga pada DA. Beberapa studi menunjukkan bahwa LTRA berefek positif untuk meredakan keluhan pasien, lesi kulit, serta protein kationik eosinofilik. U-LTE4 merupakan produk akhir yang stabil dari metabolit LT, dan dieksresikan pada urin. U-LTE4 dianggap mencerminkan produksi total LT pada tubuh, karena LTC4 dan LTD4 mengalami metabolisme secara cepat dan diubah menjadi LTE4. Pemeriksaan urin merupakan suatu metode non-invasif jika dibandingkan dengan pemeriksaan darah, sehingga peneliti mencoba mengukur kadar U-LTE4 pada pasien DA di tempat kami dan melihat bagaimana profilnya, agar kami bisa memperkirakan bagaimana prognosis penggunaan LTRA untuk terapi DA. 

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif cross-sectional untuk mengukur kadar U-LTE4 pada berbagai derajat keparahan pasien DA, berdasar indeks SCORAD. Subjek penelitian adalah seluruh pasien DA yang datang berobat ke Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dan diambil secara konsekutif dalam jangka waktu 4 bulan (April 2017-Juli 2017). Pasien didiagnosis berdasarkan kriteria Williams melalui anamnesis, pemeriksaan klinis, dan ditentukan derajat keparahan DA-nya menggunakan indeks SCORAD. Sampel urin diambil, kemudian disentrifus dan disimpan dalam freezer bersuhu -80° sampai waktu penelitian selesai. Kemudian seluruh sampel urin diukur kadar U-LTE4 menggunakan teknik double-antibody sandwich enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), dengan reagen Human Leukotriene E4 ELISA Kit dari Shanghai Crystal Biotech Co., LTD. 

Penelitian ini melibatkan 22 pasien DA yang terdiri dari 7 pasien laki-laki dan 15 pasien perempuan yang berusia 2–51 tahun. Terdapat 8 pasien DA derajat ringan (36,36%), 11 pasien DA derajat sedang (50,00%), dan 3 pasien DA derajat berat (13,64%). Rerata U-LTE4 pada seluruh total subjek penelitian yaitu 24,02±11,02 pg/ml, sedangkan rerata kadar U-LTE4 pada masing-masing derajat keparahan DA baik ringan, sedang, dan berat berturut-turut adalah sebagai berikut: 16,43±8,01 pg/ml, 27,45±9,35 pg/ml, dan 31,70±15,17 pg/ml.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa semakin berat derajat keparahan DA, rerata kadar U-LTE4 akan meningkat. Produksi U-LTE4 yang meningkat ini bisa disebabkan oleh peningkatan sel-sel imun yang memproduksi Cys-LT, yaitu sel mast, basofil, eosinofil, dan makrofag. Bukti-bukti terkini mendukung bahwa LT berperan penting dalam patogenesis asma bronkial dan rinitis alergi, dengan menyebabkan kontraksi otot polos, mengganggu pembersihan mukosiliar, meningkatkan sekresi mukus, menarik eosinofil ke dalam saluran napas, dan meningkatkan permeabilitias vaskular sehingga menyebabkan edema. Spector dkk melaporkan bahwa terapi LTRA dapat menurunkan gejala asma di siang dan malam hari, menyebabkan kebutuhan penggunaan obat agonis β2 jangka pendek berkurang, serta nilai parameter tes fungsi paru yang lebih baik. DA, bersama dengan asma bronkial dan rinitis alergi, termasuk dalam trias atopi. Beberapa penelitian telah melaporkan penggunaan LTRA secara rasional untuk terapi DA, namun demikian mekanisme kerja LTRA pada DA belum diketahui dengan pasti. 

DA merupakan suatu penyakit yang dipengaruhi multifaktorial, sehingga kita tidak boleh hanya bergantung pada LT sebagai penyebab pasti eksaserbasi DA. Pengukuran kadar U-LTE4 ini dapat dipertimbangkan untuk dilakukan pada pasien DA kronik dan rekalsitran, dan bisa digunakan sebelum seseorang memutuskan untuk menggunakan terapi LTRA oleh karena harganya yang relatif mahal. Penelitian kami juga memiliki keterbatasan, sehingga penelitian lanjutan untuk subjek ini sangat diharapkan, misalnya penelitian untuk menentukan nilai cut-off U-LTE4 di Indonesia, penelitian dengan sampel di fasilitas kesehatan primer agar bisa memperoleh lebih banyak subjek penelitian, dan penelitian yang membandingkan parameter klinis DA dengan kadar U-LTE4 contohnya kadar IgE serum total. 

Temuan kami menunjukkan bahwa LT berperan dalam DA, sehingga penggunaan LTRA dapat dipertimbangkan terutama untuk pasien DA kronik rekalsitran. Penelitian lain yang menggunakan desain analitik masih harus dilakukan di masa mendatang, sehingga dapat menunjukkan hubungan antara kadar U-LTE4 dan derajat keparahan DA secara statistik. 

Penulis: Dr. Afif Nurul Hidayati, dr., SpKK, FINS-DV, FAADV

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.pagepress.org/journals/index.php/dr/article/view/8061

Pratamasari, M., Hoetomo, M. M., & Hidayati, A. (2019). Urinary leukotriene e4 level profile in various degrees of severity in atopic dermatitis patients in dermatovenereology outpatient clinic Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya: A descriptive study. Dermatology Reports11(1s). 

https://doi.org/10.4081/dr.2019.8061

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu