Kemenko Perekonomian RI Ungkap Tujuan Indonesia di KTT G20 2020

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PENYERAHAN cinderamata dari Kemenko Perekonomian RI kepada Rizal Edwin (kanan). (Foto: Pradnya Wicaksana)

UNAIR NEWS – The Group of Twenty (G20) merupakan kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa. Kelompok ini tidak hanya berisi negara maju saja, tetapi negara berkembang seperti Brazil dan Indonesia. Latar belakang pembentukan G20 adalah untuk mengatasi krisis ekonomi dunia tahun 1998 dan meningkatkan peran negara berkembang dalam perekonomian dunia. Setiap tahun, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) akan diadakan untuk membahas persoalan ekonomi, namun belakangan ini telah berkembang isu seperti peningkatan peran wanita hingga climate change.

Untuk membahas peran Indonesia dalam ekonomi internasional, Departemen Hubungan Internasional (HI) FISIP UNAIR mengadakan sebuah kuliah umum yang bertajuk Diplomasi Ekonomi Pemerintah Indonesia pada Forum Kerja Sama Ekonomi Internasional dengan mengundang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (Kemenko Perekonomian RI).

Asisten Deputi Kerjasama Ekonomi Multilateral, Dr. Rizal Edwin Manansang menceritakan tentang isi pidato Presiden Joko Widodo pada KTT G20 2019 di Jepang lalu tentang ekonomi digital. Jokowi mengatakan bahwa ‘data is the new oil’ dengan maksud bahwa data/informasi lebih berharga daripada minyak bumi. Siapa yang menguasai informasi, dapat menguasai dunia.

“Jokowi mendukung proposal pemerintahan Jepang tentang pengetatan privasi data baik secara teknis maupun yuridis,” tutur mantan vokalis grup Trio Libels itu

Rizal Edwin juga menceritakan tentang usulan Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai sentral perekonomian digital yang melibatkan banyak usaha kecil menengah. Pidato Jokowi disambut hangat oleh anggota-anggota yang lain malam itu.

Untuk itu, pada KTT 2020 di Arab Saudi, Jokowi merencanakan bahwa prioritas Indonesia harus selaras dengan kepentingan dunia agar persentase prioritas tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan peran Indonesia dalam perekonomian dunia.

“Program-program seperti pengembangan biofuel B70, pembasmian illegal fishing, dan reformasi WTO akan menjadi referensi utama untuk intervensi Indonesia pada KTT tahun depan,” tutup Edwin

Perlu diketahui, kuliah umum ini dilaksanakan di Ruang Adi Sukadana Gedung A FISIP UNAIR pada Kamis (14/11/2019).

Penulis : Pradnya Wicaksana

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu