Mahakarya Pagelaran Sendratari Ludruk UKTK UNAIR di Dies Natalis ke-65

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah satu penampilan UKTK UNAIR dalam serangkaian Dies Natalis 65. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Tari dan Karawitan tak henti hentinya membuat unair bangga dengan karya dan penampilannya. Setelah mendapat gelar juara umum di GFT XXVII yang digelar Universitas Brawijaya. Tepat kemarin, Senin (11/11/19), UKTK menampilkan sebuah mahakarya pagelaran  sendratasik pada acara dies natalis Universitas Airlangga yang ke-65.

Acara yang bertajuk “Pagelaran Seni dan Kolaborasi Budaya” itu digelar di aula Garuda Mukti gedung rektorat lantai 5 Universitas Airlangga dengan dihadiri oleh kurang lebih 1000 penonton dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, alumni dan tenaga kependidikan unair. Selain penampilan dari UKTK UNAIR ada juga penampilan-penampilan yang lain, dari mahasiswa internasional sampai para dosen. Namun,penampilan pagelaran sendratari UKTK UNAIR yang menjadi puncaknya.

Merupakan hajatan besar UKTK UNAIR, persiapan yang dilakukan selama 1,5 bulan mulai dari persiapan setting panggung sampai persiapan karya. Tampil dengan membawakan karya sendratari berjudul “AIRLANGGA : AKU DENGANKU” berdurasi kurang lebih 50 menit berhasil menghipnotis semua penonton.

Menceritakan tentang keresahan airlangga yang mengharuskan dia bertapa untuk merenungi kejadian semasa dia menaklukkan raja-raja kerajaan lain, tetapi kalah hanya dengan seorang ratu. Musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri, apa yang terjadi terhadap diri berasal dari apa yang kita tanamkan dalam diri.

Dwi Putra Cakranegara salah satu alumni UNAIR dan juga pemerhati seni yang menonton menuturkan, karya UKTK UNAIR sangat inovatif dan memukau. Pasalnya, berhasil mengkolaborasikan ludruk dengan sendratari yang sangat jarang saya jumpai di sendratari lain.

“Namun sayang durasinya kurang lama saja,” tambahnya.

Karya sendratari ini merupakan sebuah dobrakan besar dari UKTK UNAIR karena pada basicnya UKTK mempelajari tari dan karawitan namun dalam karya tersebut terdapat unsur drama yang harus dipelajari, terutama pada pendalaman karakter setiap tokoh. Selain itu, untuk menonjolkan ikon jawa timur khususnya suroboyoan harus mempelajari ludruk dan mengkolaborasikannya.

Menurut Dwi Retno, selaku pimpinan produksi berharap bahwa dengan adanya pagelaran ini bisa menjadi pendobrak semangat berkarya untuk anggota UKTK dan berbudaya untuk mahasiswa Unair pada umumnya.

“Dan semoga UKTK Unair semakin banyak karya dan terus membanggakan Universitas Airlangga dibidang seni tari dan karawitan” tandasnya.

Rafif Asyraf menambahkan selaku ketua umum UKTK UNAIR 2019 sangat bangga dengan kontribusi UKTK pada serangkaian dies natalis. Pasalnya, hal itu akan menambah citra baik universitas dikalangan luas sebagai kampus yang selain sisi akademiknya yang sudah diakui baik.

“Ini menjadi cara kita mengenalkan UNAIR sebagai kampus yang peduli akan seni dan budaya tidak kalah dengan kampus-kampus berbasic seni lainnya,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Nu’em Abdillah

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu