Mengenal Lebih Dekat Lamun dan Manfaatnya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Lamun dalam bahasa Inggris disebut seagrass, jenis ini berbeda dengan rumput laut yang umum dikenal oleh masyarakat luas.Lamun adalah satu-satunya tumbuhan dari kelas Liliopsida (monokotil) yang mampu beradaptasi pada perairan laut khususnya pesisir.

Lamun merupakan spesies kunci dalam ekosistem pesisir yang berperan sebagai tempat pemijahan, mencari makan, tempat asuhan, dan berlindung berbagai jenis organisme pesisir. Namun sayangnya ekosistem lamun dilaporkan mengalami penurunan di seluruh belahan bumi sebagai dampak dari pemanasan global.

Pemanasan global yang terjadi beberapa dekade terakhir berdampak signifikan pada organisme yang berhabitat di perairan laut,hal ini disebabkan karena pemanasan global tidak hanya menyebabkan kenaikan suhu udara, namun juga suhu air laut secara global. Berangkat dari latar belakang diatas, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Dr. Sucipto Hariyanto, DEA bersama tim mengungkap manfaat lamun dan kondisinya saat ini.  

“Sampel yang digunakan dalam penelitian saya dan tim yaitu Thalassia hemprichii berukuran 10‒5 cm (pangkal ke ujung daun) diperoleh dari pantai utara Lamongan. Percobaan dilakukan dalam sistem budidaya hidroponik di akuarium Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga,” jelas dosen FST tersebut.

Lamun sebagai salah satu sumber daya perairan laut yang paling utama, lanjutnya, karena memberikan jasa ekosistem laut yang sangat penting secara ekologis maupun ekonomis. Lamun berfungsi dalam stabilisasi sedimen, peningkatan kualitas air, dan dalam siklus karbon dan nutrisi, serta menyediakan habitat bagi berbagai bentuk kehidupan di perairan pantai dan sebagai tempat pembibitan, tempat berteduh, dan tempat mencari makan bagi banyak spesies, termasuk sejumlah ikan dan kerang berekonomis penting.

Dosen lulusan S3 Universite Paris Xii Val De Marne ini lebihlanjutmenjelaskan pengembangan adaptasi ekologi, fisiologi dan morfologi yang dilakukan lamun agar sepenuhnya dapat hidup di bawah permukaan air laut, berupa transport gas internal, epidermal kloroplas dan polinasi penyebaran biji di bawah permukaan air laut. Perubahan intensitas cahaya matahari, ketinggian permukaan air laut, gas karbondioksida di atmosfer secara global  dan suhu air laut secara terus-menerus juga direspons oleh lamun dengan mekanisme toleransi maupun cekaman yang berakhir dengan kematian,” ujarnya.

Suhu tinggi yang terjadi pada Thalassia hemprichiidirespons dengan peningkatan ekspresi secara signifikan Gen Sod sebesar 3,02-fold, Gen Apx sebesar 4,93-fold, Gen Cat sebesar 1,72-fold, Gen Hsp 70 sebesar 1,71-fold dan Gen Hsp 80 sebesar 2,78-fold. Sedangkan ekspresi gen sHsp mengalami penurunan regulasi ekspresi sebesar -2,21-fold, namun tidak signifikan.

Penulis : Dian Putri Apriliani

Editor : Nuri Hermawan

Berikut Link terkait tulisan di atas: http://tai2.ntu.edu.tw/taiwania/pdf/tai.2019.64.117.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu