Himapol UNAIR Tutup Airpol 4.0 dengan Diskusi Soal Politik dan Teknologi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
WAKIL Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil E. Dardak, M. Sc., saat memberikan materi pada pembukaan Talkshow Politik dan Teknologi: Nyambung atau Buntung, Sabtu (9/11/2019). (Foto: Zanna Afia)
WAKIL Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil E. Dardak, M. Sc., saat memberikan materi pada pembukaan Talkshow Politik dan Teknologi: Nyambung atau Buntung, Sabtu (9/11/2019). (Foto: Zanna Afia)

UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar acara Talkshow bertajuk Politik dan Teknologi: Nyambung atau Buntung? pada Sabtu (9/11/2019).  Gelaran talkshow tersebut merupakan penutup dari rangkaian acara Airpol 4.0.

Bertempat di Aula Kahuripan Kantor Manajemen UNAIR Kampus C, talkshow menghadirkan sejumlah pembicara. Di antaranya, Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil E. Dardak, M. Sc.; Direktur Indonesia Indikator Rustika Herlambang; tenaga ahli utama direktur program dan berita TVRI Riga Danniswara; serta pakar kemaritiman dan akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Prof. Daniel M. Rosyid, PhD, M.RINA.

Nimas Vinsa, ketua pelaksana kegiatan Talkshow Airpol 4.0, menyebutkan bahwa airpol merupakan acara tahunan yang rutin digelar oleh Himapol. Memasuki tahun keempat, Himapol memilih politik dan teknologi sebagai tema acara.

“Indonesia telah mencapai kemajuan teknologi yang sangat pesat, bahkan teknologi juga menyentuh bagian-bagian dari politik. Sehingga pengetahuan mengenai praktik teknologi dan politik sangat penting dan diperlukan bagi kita semua,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FISIP UNAIR Dr. Falih Suaedi, Drs., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa hadirnya revolusi industri 4.0 saat ini telah membuat masyarakat akrab dengan fenomena digitalisasi. “Revolusi industri 4.0 membuat kita semua familiar dengan digitalisasi. Hal ini semoga tidak memunculkan dehumanisasi. Menurut saya human adalah aktor utama. Ada ruang dan waktu yang tidak bisa disentuh oleh teknologi, yakni emosi, perasaan, komitmen, etika,” paparnya.

Falih melanjutkan bahwa teknologi ibarat pisau bermata dua. Apabila dimanfaatkan dengan baik, teknologi dapat memberikan banyak keuntungan dalam hal efektifitas dan efisiensi bagi pekerjaan manusia. Sebaliknya, apabila disalahgunakan, teknologi dapat memunculkan berbagai permasalahan, seperti cyber crime, penyebaran hoaks, dan sebagainya.

“Prof. Ramlan (guru besar politik UNAIR, Red) mengingatkan saya bahwa kekuasaan itu cenderung korup. Oleh sebab itu, harus dilawan dengan sistem yang bagus sehingga kekuasaan tidak monopolistik. Akuntabilitas harus ditingkatkan dengan sangat baik,” ungkap Falih.

Dalam dunia politik teknologi diharapkan mampu menjadi instrumen untuk membuat praktik politik yang berkarakter. Pemanfaatan teknologi yang tepat dalam politik akan mempersempit ruang-ruang penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan oleh oknum tak bertanggungjawab.

“Politik dengan teknologi bisa dipakai sebagai instrumen untuk membuat monopoly of power menjadi lebih sempit dan akuntabilitas menjadi lebih meningkat. Dengan demikian, kita akan meraih momen kejayaan Indonesia di masa yang akan datang,” tutur dosen Administrasi Negara tersebut.

Seusai pembukaan dan penyampaian materi pertama oleh Wakil Gubernur Jatim Emil E. Dardak selaku keynote speaker, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu oleh dosen ilmu politik UNAIR, Febby Risty Widjayanto, S.IP., M. Sc sebagai moderator. (*)

Penulis: Zanna Afia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu