Dr. Didik Budijanto Akan Menginisiasi Program Satu Data Kesehatan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. drh. Didik Budijanto, selaku Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI memberikan pendapatnya mengenai kesehatan dalam revolusi industri 4.0. (Foto : Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Perkembangan tren teknologi digital berkembang semakin cepat. Hampir ratusan juta warga di Indonesia telah terkoneksi dengan Internet dan memiliki gadget berupa smartphone ataupun laptop.

Karena itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) ingin mengadopsi teknologi digital untuk membenahi sistem pelayanan kesehatan Indonesia agar tersedia dalam bentuk layanan online yang berkualitas dan praktis.

Dalam Seminar Revolusi Industri Kesehatan 4.0, Dr. drh. Didik Budijanto, selaku Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI menjelaskan bahwa pemerintah akan menginisiasi sebuah program yaitu Satu Data Kesehatan. Program itu bertujuan agar data kesehatan seluruh masyarakat Indonesia dapat ditampung dalam satu wadah untuk memudahkan segala bentuk pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

“Data yang kami tampung harus melewati standarisasi tertentu yang sudah kami benahi dengan tujuan agar data itu dapat mendorong pengambilan keputusan berdasar bukti akuntabilitasnya,” ujar Dr. Didik

Program e-kesehatan tersebut akan didukung oleh teknologi-teknologi seperti registrasi rumah sakit dan Puskesmas online, rekam medis online dan Artificial Intelligence dalam bentuk radiologi dan lab information system. Dr Didik Budijanto mengatakan bahwa pengembangan program Satu Data Kesehatan tersebut juga menimbulkan berbagai tantangan dan ancaman. Tantangan utama adalah bagaimana caranya pelayanan kesehatan bisa universal dan tidak timpang walaupun kondisi faktor geografis Indonesia adalah kepulauan dan masih banyak daerah yang belum tersentuh dengan kehidupan modern.

Lanjutnya, ancaman yang terburuk adalah bahwa Kemenkes RI harus menjamin keamanan data tersebut agar tidak bocor ke pasar gelap di Internet. Data tersebut bahkan seringkali disebut sebagai tambang emas dari data pribadi yang ada di Internet.

“Riset mengatakan bahwa data kesehatan 60 kali lebih berharga daripada data sosial biasa dikarenakan data kesehatan menyimpan informasi yang begitu privat dan sensitif. Apabila bocor, dapat mengancam keamanan masyarakat,” jelasnya.

Perlu diketahui, seminar Revolusi Industri Kesehatan 4.0 dilaksanakan di Aula Garuda Mukti Lantai 5 Gedung Manajemen Kampus C UNAIR pada Selasa pagi (12/11/2019) dan mengundang narasumber lainnya seperti Dr. Dhany Arifianto dan CEO ProSehat.com.

Penulis : Pradnya Wicaksana

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu