Delegasi UNAIR Angkat Sisi Lain Masyarakat Tionghoa dalam Monash Herb Feith Center Conference 2019

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DARI kiri Dr. Hilmar Farid, Prof. Dra. Rachmah Ida M.Com. Ph.D., Eka Nurul Farida, Nadia Santosa, dan Adrian Perkasa S.Hum. M.A., saat menghadiri Monash Herb Feith Centre Conference 2019 di Australia. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Selama ini, warga Indonesia keturunan Tionghoa kerap dinilai dalam dua kategori. Yakni, dari sisi negatif yang berkaitan dengan dominasi mereka di sektor ekonomi serta sisi positif mengenai prestasi dan kontribusi mereka pada beragam bidang. Namun, di luar kedua hal tersebut, tersimpan banyak memori lain yang tak kalah menarik.

Bulan Oktober lalu, tepatnya Jumat (1/10) hingga Minggu (3/10), Herb Feith Indonesian Engagement Centre berupaya untuk menghadirkan sisi lain kehidupan masyarakat Tionghoa melalui Monash Herb Feith Center Conference 2019. Bertempat di Monash University, Australia, forum akademik bertaraf internasional ini mengambil tajuk Chinese Indonesians: Identities and Histories dan diikuti sejumlah akademisi dari berbagai institusi.

Dalam kesempatan tersebut, ada empat delegasi UNAIR yang bertolak ke Negeri Kanguru guna mempresentasikan penelitiannya. Yakni, Prof. Dra. Rachmah Ida M.Com., Ph.D., pengajar di departemen ilmu komunikasi serta pengajar departemen ilmu sejarah, Adrian Perkasa S.Hum. M.A., juga dua mahasiswinya, Eka Nurul Farida dan Nadia Santosa.

Salah seorang delegasi, Eka, menuturkan jika topik yang diangkat pada konferensi itu sangat menarik. Sebab, pembahasan tentang etnis Tionghoa maupun Cina tidak terbatas pada permasalahan identitas saja. Melainkan juga mencoba mengetahui perspektif masyarakat hari ini akan kedua hal tersebut. Sebagai contoh, terdapat delegasi yang membahas Cina atau Tionghoa dari sudut pandang sastra, gender, hingga narasi nasional.

“Kami berempat mempresentasikan topik yang berbeda-beda. Ada Ibu Rachmah Ida yang mengulas topik media dan kaitannya dengan Tionghoa. Kemudian, topik tentang Putri Campa beserta warisan Tionghoa di Majapahit yang dibawakan Pak Adrian bersama Nadia. Lalu, saya yang mengemukakan topik Konfusianisme di Surabaya hasil kolaborasi dengan Ibu Shinta Devi dan topik kehidupan masyarakat Tionghoa di Peneleh,” cerita Eka.

Selain itu, acara itu juga menghadirkan beberapa pembicara yakni Prof. Ariel Heryanto (Monash University, Australia), Karen Strassler (Queens College, Amerika Serikat), serta Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid.  Adapula penampilan dari salah satu seniman bernama Rani Pramesti yang membuat karya seni berupa video narasi atau story teller mengenai kondisi masyarakat Tionghoa tahun 1998.

Baik Eka maupun Nadia, keduanya merupakan delegasi termuda dalam konferensi. Presentasi mereka disaksikan oleh para akademisi yang sudah terlebih dahulu malang melintang di bidang penelitian. Namun, mereka tidak gentar. Terutama Nadia yang terbilang masih baru dalam kegiatan seperti ini. Meski sempat grogi, namun mahasiswa angkatan 2018 itu dapat membawakan topik presentasi bersama sang dosen dengan baik.

“Aku bersama Pak Adrian mengangkat pembahasan mengenai Putri Campa serta warisan budaya Komunitas Tionghoa di Kerajaan Majapahit. Putri Campa bangsawan keturunan Cina yang kemudian menikah dengan Raja Brawijaya. Ia memiliki peran besar khususnya bagi daerah di sekitar Kerajaan Majapahit. Karena dahulu seorang raja yang bisa menikah dengan putri dianggap mampu memberikan legitimasi berupa kekuasaan,” terang Nadia.

Berbeda halnya dengan Nadia yang mengambil temporal pada periode kerajaan, topik milik Eka cenderung membahas periode kontemporer. Presentasinya berjudul Screams, tears, and laughters: Retracking Chinese Indonesian Memory in Kampung Peneleh yang mencoba membedah sisi lain etnis Tionghoa. Menurut Eka, selama ini mereka kerap diidentikkan dengan peristiwa seperti Gerakan 30 September 1965 hingga Tragedi 1998.

“Bagi etnis Tionghoa di Kampung Peneleh, mereka justru bukan ingat kenangan buruknya. Ada banyak cerita lain tentang mereka yang bersifat lebih lokal dan asyik. Seperti saat mereka menghabiskan masa kecil di sana. Bisa dibilang aku ingin menawarkan narasi alternatif karena selama ini orang cenderung memakai narasi nasional,” pungkas Eka. (*)

Penulis : Nabila Amelia

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu