Tingginya Angka Kematian Akibat Depresi Cerminkan Rendahnya Kesadaran Kesehatan Mental

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MAYA ASMARA (tengah) sebagai narasumber Charity 2019 di Aula Fadjar Notonegoro, FEB, Kampus B UNAIR.pada Jumat (8/11/2019). (Foto: Inas Hanifah)

UNAIR NEWS – Kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih dinilai rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari angka yang dapat menangani kasus kesehatan mental yang hanya berkisar pada 9% saja dari total jumlah penderita.

Angka kematian akibat bunuh diri mencapai 800.000 hingga 1 juta jiwa setiap tahunnya. 80% hingga 90% dari angka kematian tersebut disebabkan oleh depresi.

Depresi merupakan gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih, kehilangan motivasi atau muncul rasa tidak peduli. Perasaan tersebut biasanya menumpuk dalam jangka waktu yang cukup lama hingga akhirnya orang tersebut mulai merasa tidak sanggup menanganinya sendiri.

Maya Asmara, seorang survivor sekaligus founder dari Komunitas Depression Warriors Indonesia berbagi pengalamannya selama ia mengalami depresi, apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengidentifikasi apabila seseorang mengalami depresi atau tidak. Maya mengaku depresi yang dialaminya merupakan kompilasi dari pengalaman maupun lingkungan sekitarnya yang kemudian menumpuk hingga ia dewasa.

“Tiba-tiba, segala ambisi, segala minat saya, itu menghilang. Gak tau kenapa. Tiba-tiba aja. Akhirnya kuliah mulai keteteran,” ungkap Maya.

Penderita depresi sukar apabila dilihat dari penampilannya saja, namun yang bisa merasakan hal itu adalah dirinya sendiri. Ketika seseorang merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, kebanyakan mereka tidak menemukan penyebabnya.

“Yang bikin stress juga, kita nggak tau kita tuh kenapa. Saya memang mungkin dari kecil hanya diajari how to do well in school, tapi saya tidak punya ilmu tentang hidup. Kalau gagal, apa yang harus saya lakukan? Kalo saya sedih apa yang saya lakukan?,” lanjutnya.

Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan menceritakannya kepada orang yang dipercaya dan dianggap mampu membantu masalah tersebut. Peran lingkungan dan pertemanan juga berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang.

Setelah melewati tahap pertama dengan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri sendiri, kemudian mencari bantuan ke orang-orang terdekat. Ketika merasa bahwa hal tersebut tidak menolong, maka disarankan untuk menemui ahli seperti psikolog maupun psikiater.

“it’s okay not to be okay. Itu yang harus ditanamkan pertama kali ketika merasakan sesuatu,” jelas Maya.

Self diagnosis sangat tidak disarankan karena dapat menambah tekanan dan menjurus pada salah diagnosa. Selain itu, salah satu cara yang Maya lakukan adalah mindfulness. Mindfulness merupakan kondisi saat seseorang benar-benar sadar akannya pada saat itu. Langkah awal dalam praktik mindfulness adalah meditasi.

Meditasi juga merupakan salah satu cara untuk mencegah kecemasan dan merawat kesehatan mental yang sudah lumrah dilakukan di luar negeri, namun tidak di Indonesia. Stigma masyarakat mengenai psikolog dan psikiater juga masih cukup tabu.

“Kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” pungkasnya.

Maya berbagi pengalamannya tersebut dalam acara Charity 2019 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Akutansi UNAIR bertajuk “Mental Health: a State of Well-being”. Acara tersebut diadakan pada Jumat (8/11/2019) bertempat di Aula Fadjar Notonegoro, FEB, Kampus B UNAIR.

Penulis: Inas Hanifah

Editor: Kehfti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu