Fitri Nganthi Wani Ceritakan Pengalamannya dalam Menulis Karya Sastra dan Jurnalistik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
FITRI Nganthi Wani, (kiri) Prof. Dr. Drs. I. B Putera Manuaba, M.Hum (tengah), dan Adelia Savitri, M.Hum (kanan) pada Kamis (7/11/2019) di Seminar Nasional PESTRA. (Foto: Inas Hanifah)

UNAIR NEWS – Pekan Bahasa dan Sastra (PESTRA) merupakan acara rutin diadakan oleh mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo). Salah satu sub acara yang kembali dihadirkan pada PESTRA 2019 yaitu seminar nasional bertajuk “Sastra dan Jurnalistik: Mata Pisau Kebebasan Karya”.

Kegiatan itu diadakan pada Kamis (7/11/2019) di Aula Siti Parwati, Lantai 2 FIB. Turut mengundang salah satu guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Prof. Dr. Drs. I. B Putera Manuaba, M.Hum dan seorang penulis muda, Fitri Nganthi Wani yang juga merupakan putri dari Widji Thukul.

Fitri Nganthi Wani yang akrab disapa Fitri menjelaskan pengalamannya dalam menulis karya sastra. Ia telah menerbitkan beberapa karya yaitu dua kumpulan puisi berjudul Selepas Bapakku Menghilang dan Kau Berhasil jadi Peluru. Tidak hanya itu kedepannya ia akan merilis karya terbarunya yang berjudul Satra Untuk Tarendra.

“Ternyata memang, saya dan sastra itu jodoh. Mau nggak mau, dengan gelar sarjana atau tidak, karena memang dari kecil saya mencintai sastra,” ungkap Fitri ketika menceritakan tentang perjalanannya hingga ia menjadi seorang penulis.

Fitri menjelaskan sastra sebagai sesuatu yang bebas dan melambangkan kebebasan. Ia juga menyebutkan, bahwa dalam sastra terdapat licentia poetica yang berarti kebebasan dalam memilih cara dan gaya dalam mengungkapkan sesuatu.

Lanjutnya, dalam berbagi pengalaman menulis karya terbarunya, ia mengaku bahwa proses pembuatan karyanya tersebut cukup menyita banyak perhatian. “Jadi selain olahraga, olah lisan, olah hati, olah tubuh, diperlukan juga olah rasa. Jadi olah rasa itu bisa menemukan ide.” pungkas Putera.

Selain itu, Putera mengungkapkan bahwa jurnalistik tidak dapat sebebas sastra. Terdapat aturan-aturan yang membatasi dalam kode etik jurnalistik. Kendati demikian, jurnalistik dan sastra merupakan dua hal yang serupa tapi tak sama. Sastra dapat melengkapi hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh jurnalistik.

“Jurnalistik selalu membawa narasi-narasi besar. Tapi ada juga narasi-narasi pinggiran itu yang tidak terucapkan, dan sastra mengucapkan itu,” ujar Putera.

Penulis: Inas Hanifah

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu