Dosen UNAIR Kaji Fenomena Penelantaran Anak di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Jamak diketahui bahwa setiap manusia memiliki hak atas standar hidup yang layak, tidak terkecuali bagi seorang anak. Bahkan, konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-hak Anak menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan dukungan yang memadai untuk perkembangan mereka dalam hal aspek fisik, moral, mental, sosial dan spiritual.  

Berangkat dari hal tersebut, Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D., dan tim melakukan penelitian tentang fenomena penelantaran anak yang menyebabkan efek yang merugikan. Seperti masalah dengan perkembangan kognitif, sosial dan emosional, penggunaan narkoba, melukai diri sendiri, kemampuan hidup sosial yang lebih rendah, masalah kejiwaan dan neurologis, kesinambungan pengabaian terhadap anak-anak mereka sendiri dan potensi ingin membalas dendam pada orang-orang yang mengabaikan mereka.

“Anak-anak terlantar adalah masalah sosial yang kompleks,” tandas dosen yang akrab disapa Ferry itu.

Baginya, fenomena penelantaran anak adalah masalah multidimensi. Pasalnya, penyebabnya tidak dapat dilihat hanya berdasarkan karakteristik individu, tetapi juga harus mempertimbangkan efek variasi rumah tangga. Ia juga menjelaskan bahwa memahami faktor-faktor risiko penelantaran anak di Indonesia adalah penting.

“Di mana pengetahuan tentang faktor-faktor risiko ini berguna untuk mencegah dan mengurangi kejadian penelantaran anak di negara ini,” ujarnya.

Selanjutnya, hasil penelitian yang ia lakukan bersama tim menemukan bahwa anak-anak Indonesia yang diabaikan masih lazim ditemukan. Semua variabel tingkat individu, jelasnya, dalam penelitian tersebut adalah signifikan, yaitu jenis kelamin anak, satu atau kedua orang tua meninggal, usia anak, keberadaan anak-anak terlantar lainnya dalam rumah tangga, dan status kecacatan anak.

“Semua variabel yang signifikan sejalan dengan penelitian sebelumnya. Namun, ada satu variabel yang memiliki pengaruh terbesar pada kemungkinan penelantaran anak di Indonesia, yaitu keberadaan anak-anak terlantar lainnya dalam rumah tangga. Satu anak terlantar sudah menjadi masalah, apalagi, jika jumlah mereka lebih dari satu dalam rumah tangga,” jelasnya.

Pada akhir, Ferry menegaskan bahwa faktor penentu penelantaran anak sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan multi-pihak untuk merawat dan mencegah penelantaran. Kebijakan di Indonesia, tandasnya, harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga dan menciptakan intervensi khusus untuk mengidentifikasi dan membantu anak-anak yang rentan di masyarakat.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Khefti Al Mawalia

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0190740919304517

Berliana, Sarni Maniar, Ariani Wulan Augustia, Praba Diyan Rachmawati, Retnayu Pradanie, Ferry Efendi, and Gading Ekapuja Aurizki. “Factors associated with child neglect in Indonesia: Findings from National Socio-Economic Survey.” Children and Youth Services Review (2019): 104487.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu