Paparkan Peran Entitas dalam Pengungkapan Penanganan Korupsi Tambang, Tiga Mahasiswa FEB UNAIR Raih Juara Dua

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DARI kiri Ariana Prihandini (CEO KMN EBK X), Nadya Tiarasari, Firstian Aprinia Sugiatmoko, dan Raden Roro Widya Ningtyas Soeprajitno. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Kabar membahagiakan datang dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga (UNAIR). Pasalnya, tiga delegasi mereka berhasil meraih peringkat kedua dalam Konferensi Mahasiswa Nasional Ekonomi Bebas Korupsi (KMN EBK) X di FEB Universitas Gadjah Mada pada Kamis (31/10) hingga Sabtu (2/11) lalu.

Salah seorang delegasi, Nadya Tiarasari, membenarkan hal tersebut. Dia menjelaskan bahwa konferensi itu merupakan ajang karya tulis ilmiah (paper competition) tingkat mahasiswa yang tahun ini mengambil tajuk Mengupas Perkara Korupsi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam di Indonesia. Tidak hanya itu, terdapat pula sesi focus group discussion (FGD).

“Ada beberapa subtema yang diusung, antara lain mengenai sektor kehutanan, kelautan, pertambangan, serta perkebunan. Kebetulan, kelompok kami memilih membahas pertambangan. Namun untuk FGD, kami dipisahkan untuk membahas sektor lain. Selama kegiatan saya bekerjasama dengan dua rekan se-angkatan yang juga satu jurusan yaitu Raden Roro Widya Ningtyas Soeprajitno dan Firstian Aprinia Sugiatmoko,” terang Nadya.

Dalam kesempatan tersebut, Nadya bersama dua rekannya menyusun karya tulis yang berjudul Peranan Entitas Dalam Upaya Pengungkapan Penanganan Korupsi Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Di Indonesia. Mereka menemukan sebuah temuan dari hubungan yang ada antara Military Connection, Board Independent, dan Board Size pada upaya pengungkapan penanganan perkara korupsi di sebuah perusahaan pertambangan.

“Jadi untuk board size (ukuran direksi) dan military connection (perusahaan yang memiliki hubungan dengan institusi militer) itu terdapat suatu hubungan yang positif atau berpengaruh pada upaya pengungkapan perkara korupsi. Sementara pihak dewan independen tidak mempunyai pengaruh,” ujar peraih predikat Ning Favorit 2019 tersebut.

Ketiganya mengaku senang karena dapat memperoleh banyak pengalaman dalam konferensi tersebut. Di antaranya, menjalin relasi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia hingga menemukan insight baru tentang perkara korupsi yang menimpa sektor sumber daya alam Indonesia. Para peserta bisa saling berdiskusi mengenai upaya yang sebaiknya dilakukan oleh seluruh pihak terkait penanganan korupsi.

“Apalagi, peserta konferensi berasal dari latar belakang yang berbeda baik dari ekonomi, hukum, sampai dengan teknik. Kendala yang kami hadapi selama mengikuti lomba adalah kurangnya sudut pandang hukum. Tetapi kami berharap semoga ke depan bisa lebih baik lagi. Untuk teman-teman mahasiswa lainnya, jangan lewatkan kesempatan yang ada. Meskipun masih baru bisa tetap mencoba mengikuti kegiatan seperti ini,” tutupnya. (*)

Penulis : Nabila Amelia

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu