Mengulik Seluk Beluk Passion dan Motivasi Berkarya Bersama Pandji Pragiwaksono

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PANDJI Pragiwaksono saat mengisi seminar IDSC di Airlangga Convention Center pada Jumat (31/10/19). (Foto: Maftuh Amien))
PANDJI Pragiwaksono saat mengisi seminar IDSC di Airlangga Convention Center pada Jumat (31/10/19). (Foto: Maftuh Amien))

UNAIR NEWS – BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR kembali menggelar Seminar International Development Students Conference (IDSC) pada Jumat (31/10/19). Bertempat di Airlangga Convention Center (ACC), Pandji Pragiwaksono, salah seorang aktor, stand-up comedian, dan penulis terkemuka di Indonesia, hadir sebagai pengisi materi utama bersama Putri Tanjung.

Jika Putri Tanjung membagikan tips-tips dan motivasi bisnis bagi anak muda, Pandji membawakan materi santai mengenai bagaimana mahasiswa dapat memotivasi dan menyadari kelebihan diri untuk mulai terjun ke dunia bisnis. “Gue lahir dari keluarga broken home. Bangkrut, pernah hidup numpang, nilai akademik jelek. Tapi, kenapa gue sekarang bisa ada di posisi ini?” ungkap pencetus Stand Up Comedy World Tour tersebut.

Menurut Pandji, takdir dan kesuksesan orang tidak ditentukan pada bagaimana hidup dimulai tapi bagaimana dijalankan. Maka jika kita pernah mengalami hal tersebut, hendaknya buang jauh-jauh setiap pemikiran negatif yang memandang rendah diri kita sendiri. Karena, pada dasarnya semua orang bisa dengan cara mereka masing-masing.

“Lalu salah satu masalah klasik anak muda tu biasanya passion yang terhalang pendapat orang tua. Dari yang gue pelajari selama ini, orang tua melarang sana sini bukan karena jahat. Tapi, cuma karna mereka nggak ngerti,” jelasnya.

Menurut Pandji, perkembangan dunia yang membuat diversifikasi peluang kerja semakin meluas menjadi hal yang sulit dipahami oleh para orang tua. “Bayangkan jika kalian bilang ke orang tua kalian pengen jadi gamer. Ya pasti mereka menolak. Padahal beberapa bulan yang lalu ada remaja 16 tahun yang menang hadiah 42 milyar dari kompetisi Fortnite,” katanya.

Untuk itu, Pandji menyarankan agar mahasiswa berusaha untuk mengenalkan dan membuktikan passion mereka ke orang tua agar mereka paham. Masalah kedua yang sering anak muda hadapi adalah jika mereka tidak tahu apa passion dan keahlian mereka.

“Salah jurusan karena pas SMA kita belum tahu passion kita, misalnya. Kalo menurut gue lebih baik lo lanjutin aja kuliah. Jadiin ilmu di jurusan lo sebagai kebiasaan dan keahlian. Nah, yang tinggal lo lakuin kemudian adalah cari kesukaan. Puncaknya, lo harus mampu mengawinkan dunia yang lo suka dan lo bisa,” ungkap penulis buku Juru Bicara tersebut.

Pandji memberikan contoh pernyataan tersebut melalui orang yang berkecimpung dalam jurusan komunikasi dan public speaking, tapi menyukai sepak bola. Maka salah satu cara mengawinkan dua hal tersebut adalah menjadi komentator bola.

Selain itu, bagi Pandji cara lain dapat digunakan untuk menemukan passion adalah mencoba menghilangkan faktor uang dalam suatu kegiatan yang kita ikuti. “Coba-coba dulu lakuin beberapa kegiatan di beberapa bidang. Dan, coba juga untuk tidak mengharapkan uang dari sana. Jika sesudah itu kalian nemuin kebahagian walau tanpa dapat sepeser pun, mungkin di sanalah passion kalian benar-benar berada. Kualitas kerjaan dan kebahagiaan kalian lebih penting dari kuantitas,” jelasnya.

Terakhir Pandji mengingatkan pada para peserta untuk tidak pernah mengubur cita-cita mereka. “Jangan pernah sekalipun ngubur cita-cita. Kejar aja semampunya. Karna sekali kalian ngubur tu cita-cita, empat puluh lima puluh tahun lagi cita-cita itu bakal bangkit dalam bentuk penyesalan. Karena kalian sadar bahwa semuanya udah terlambat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu