Bentuk Komunitas untuk Kurangi Risiko Tanah Longsor di Trenggalek

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Program Magister Manajemen Bencana (PS MB) Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga pada bulan September mengadakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek. Pada kesempatan itu dosen PS MB Dr. Dina Sunyowati, S.H.,M.Hum, Dr. Suparto Wijoyo, S.H.,M.H, dan Dr. Christiyogo Sumartono, dr.SpAn KAR.

Dalam pengmas tersebut, mereka memberikan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Salah satunya adalah dengan tidak memotong pohon di daerah perbukitan. Sebab, potensi longsor di Desa Depok sangat besar terjadi.

Pengmas turut melibatkan Kepala Badan Peanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) Kabupaten Trenggalek. Dalam pengmas itu, Kepala BPBD Trenggalek memberikan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, dari pra bencana hingga pasca bencana.

Desa Depok dipilih menjadi tempat binaan dalam pengmas karena terletak di wilayah perbukitan Pegunungan Wilis. Luas wilayah mencapai 1.341 Ha2 yang membentang di lereng pegunungan dengan ketinggian 180-900 mdpl dan memiliki karakteristik kemiringan lereng sebesar 16o – 55o (30% – 70%) membuat desa ini rentan terjadi tanah longsor.

“Berdasarkan data geografis di Desa Depok, bencana tanah longsong sangat sering terjadi, terutama pada saat musim penghujan. Kondisi ini diperparah dengan jarak yang jauh dari perkotaan atau kecamatan, sehingga kerugian yang diderita baik fisik atau non fisik tidak segera mendapat bantuan dari pemerintah,” ujar Dina Sunyowati.

Pengmas ini dalam bentuk pendampingan kepada masyarakat sebagai upaya pengurangan risiko bencana (PRB). Tujuannya, sebagai langkah meningkatkan kapasitas dan menurunkan kerentanan masyarakat dalam menghadapi dan mengelola bencana dan dampak yang ditimbulkan.

“Faktor belum adanya pendidikan tentang PRB, belum adanya inisiasi dalam pembentukan kelompok PRB dan belum adanya advokasi kebijakan tentang implementasi program PRB oleh pemerintah desa menjadi akar masalah yang telah terpetakan,” terang Dina.

Dina menambahkan, pendekatan yang digunakan dalam pendampingan ini menggunakan metode PAR (Particpatory Action Research). PAR merupakan kegiatan kolaboratif antara peneliti dengan komunitas untuk melakukan riset bersama, merumuskan masalah, menyusun strategi pemecahan masalah, melakukan aksi secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

Selain itu, PAR dirancang untuk mengkonsep suatu perubahan dan melakukan perubahan terhadapnya. Mengingat bencana adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan, sehingga pandangan masyarakat mengenai isu kebencanaan harus diubah.

Dalam pengmas itu, masyarakat diajak agar dapat mengelola bencana secara menyeluruh baik pada masa sebelum, pada saat terjadi, dan setelah kejadian bencana. Pergeseran pandangan yaitu dari bersifat memberi tanggapan (responsive) menjadi pencegahan (preventive), dari urusan pemerintah menjadi partisipatif masyarakat, dari tanggung jawab beberapa sektor menjadi tanggung jawab berbagai sektor, dan dari pola menangani dampak menjadi mengurangi risiko.

Luaran hasil dari pendampingan yaitu terbangun kesadaran masyarakat Desa Depok tentang PRB, terbentuknya Kelompok Tangguh Bencana Desa Depok sebagai motor penggerak masyarakat untuk siap siaga terhadap bencana alam tanah longsor, serta pemerintah Desa Depok dapat memprioritaskan kegiatan mitigasi bencana dalam program pembangunan desa.

“Sehingga kegiatan pengurangan risiko bencana (PRB) yang ideal baik di tingkat pusat maupun di daerah menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dapat diimplementasikan di Desa Depok, dan terciptalah masyarakat yang siap siaga dan tangguh terhadap bencana tanah longsor,” terang Dina. (*)

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu