Tanggulangi Stunting dengan Selamatkan Gizi Antar Generasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi balita stunting. (Sumber: the conversation)

UNAIR NEWS – Stunting merupakan kondisi kurang gizi kronis dalam waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkan gangguan pada pertumbuhan pada anak. Stunting terjadi dimana kondisi tinggi badan anak yang pendek dibandingkan anak normal.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Trias Mahmudiono S.KM., MPH (Nutr.), GCAS, Ph.D atau Trias, menjelaskan bahwa selain tinggi anak pendek dibanding anak yang normal, anak dengan kondisi stunting juga memiliki kapasitas kemampuan berfikir yang lebih rendah. Hal itu disebabkan akibat perkembangan syaraf yang tidak sempurna.

“Kondisi kapasitas kemampuan berfikir yang rendah pada penderita stunting diakibatkan oleh karena pertumbuhan otak yang kurang maksimal pada masa 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan, Red) yang dimulai sejak janin dalam kandungan hingga usia dua tahun kurang maksimal,” jelas dosen yang akrab disapa Trias tersebut.

Sementara itu terdapat beberapa faktor risiko stunting pada anak. Pertama, dapat dilihat pada berat badan bayi baru lahir. Apabila berat badan bayi baru lahir rendah, yaitu kurang dari 2.5 kg, maka bayi tersebut berisiko lebih tinggi untuk mengalami stunting.

Selain itu, risiko bayi menjadi stunting dapat dilihat pada kondisi calon ibu. Apabila tinggi calon ibu kurang dari 150 cm, maka bayi memiliki risiko besar menjadi stunting.

Untuk mencegah stunting, salah satu hal yang dilakukan adalah upaya penyelamatan gizi kepada intergenerational cycle. Artinya, pemerintah dan pihak terkait tidak hanya memberikan intervensi kepada bayi stunting, namun juga pada ibu dan remaja putri.

“Karena stunting terjadi sejak masa kehamilan. Apabila masa kehamilan status ibu jelek, maka janin akan beradaptasi dengan kondisi yang gersang gizinya,” lanjutnya.

Untuk itu, salah satu intervensi yang dilakukan untuk mencegah stunting adalah membuat ibu ketika sudah menikah memiliki pola pikir siap untuk hamil. Terutama, persiapan gizi ibu yang harus bisa mendukung tumbuh kembang janin.

“Tidak hanya pada ibu yang telah menikah dan berencana hamil. Namun intervenasi juga perlu dilakukan pada wanita yang menikah dan remaja putri,” ucap Trias.

Apabila seorang anak telah mengalami stunting, maka penanggulangan yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan gizi anak pada masa pubertas untuk mengerjar pertumbuhan. “Hanya saja perkembangan syaraf otak tidak bisa lagi diperbaiki,” pungkasnya. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu