Rajungan, Antara Produk Potensial dan Parasit di Dalamnya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Salah satu alternatif pengembangan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis dan potensial saat ini adalah budidaya rajungan.Sebagaimana diketahui, bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, komoditas ini menempati peringkat keempat dari total ekspor produk perikanan di Indonesia setelah tuna, udang dan rumput laut, dengan nilai mencapai USD 200 juta.

Hasil olahan rajungan atau yang juga dikenal dengan nama Blue Swimming Crab tersebut, banyak diekspor ke pasaran Amerika, Australia, Jepang dan Uni Eropa. Selain itu, olahan daging rajungan juga memiliki hasil samping (by product) berupa cangkang atau karapas yang mempunyai nilai jual cukup tinggi.

Dijelaskan oleh Dr. Kismiyati., Ir., M.Si., salah satu dosen Fakultas Perikanan dan Keluatan UNAIR, bahwa Rajungan biru (Portunus pelagicus) adalah sejenis kepiting yang hidup di laut. Jenis ini biasanya ditemukan di wilayah pantai yang dangkal, terutama di perairan Samudera Pasifik bagian barat.

“Rajungan adalah sejenis kepiting yang banyak disukai oleh konsumen karena kelezatan dagingnya, bahkan di daerah pesisir ada masakan khas yang terbuat dari rajungan tersebut. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara tetangga kita Malaysia,” imbuhnya.

Dihadang-hadang sebagai produk potensial, di sisi lain rajungan memiliki permasalahan  yang perlu untuk diantisipasi, yaitu adanya parasit. Hal tersebut, mendorong Dr. Kismiyati., Ir., M.Si., bersama tim, untuk meneliti rajungan tersebut terhadap distribusi dan jenis parasit yang menyerang.

“Parasit yang sering menyerang rajungan yaitu dari golongan ektoparasit atau parasit yang menyerang organ luar dari rajungan, lebih tepatnya yaitu dari spesies Octolasmis sp.,” ujar Kismiyati.

Ia menambahkan, Octolasmis sp. termasuk dalam kelompok crustaceae yang telah diidentifikasi memiliki ukuran tubuh sekitar 0,01-0,15 cm. Serta, parasit ini bisa dilihat dengan mata telanjang, yang kebanyakan terdapat pada tiap lembar insang atau terkadang melekat pada cangkang bagian dalam.

Penelitian yang dilakukan di daerah pesisir Kuala Terengganu, Malaysia tersebut, mengunakan 13 ekor sampel rajungan dan ditemukan  4 jenis  (spesies) Octolasmis sp. ; yaitu Octolasmis angulata, Octolasmis warwickii, Octolasmis lowei dan Octolasmis tridens. Distribusi ektoparasit tersebut lebih banyak terdapat pada insang rajungan (57,70%) dibandingkan pada bagian yang lain (42,30%). Hal tersebut terjadi, karena salah satu penyebabnya yaitu adanya arus air pada permukaan tubuh rajungan, sehingga ektoparasit lebih banyak memilih menempel pada insang yang kondisinya terhindar dari terpaan arus air.

“Efek ekonomis yang diakibatkan oleh infeksi ektoparasit dalam kegiatan penangkapan maupun budidaya rajungan yaitu, dapat berupa pengurangan populasi, penurunan bobot dan penolakan konsumen akibat adanya perubahan morfologi. Sedangkan kerugian secara fisiologi yaitu terhambatnya pertumbuhan dan menurunya kualitas daging pada rajungan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan

Sumber : Marina, H., Fazrul, H., Kismiyati., Sri, S., & Ihwan, M. Z. (2019). Occurrence of Pedunculate Barnacle, Octolasmis spp. in Blue Swimming Crab, Portunus pelagicus. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 11(1):1–8. http://doi.org/10.20473/jipk.v11i1.10635.

https://e-journal.unair.ac.id/JIPK/article/view/10635/7444

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu