Pendekatan Kelompok Efektif Biasakan Anak Asuh Hidup Bersih dan Sehat Sejak Dini

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Panti asuhan merupakan salah satu tempat yang berfungsi sebagai pengganti keluarga bagi anak yang kurang beruntung. Sehingga, selain memenuhi kebutuhan fisik, psikologis ataupun sosial pada anak asuh, lembaga tersebut juga harus mampu membangun karakter dan perilaku positif.

Menurut Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog, salah satu proses pembelajaran sederhana yang dapat membangun kualitas sumber daya manusia di panti asuhan sejak dini adalah pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Dengan kebiasaan tersebut diharapkan terbentuk kebiasaan positif dalam diri anak.

“Kebiasaan positif yang ditanamkan sejak dini akan dapat membangun kepribadian yang positif juga pada anak,” ucap dosen di Fakultas Psikologi UNAIR yang akrab disapa Nurul itu.

Selain itu, pembiasaan PHBS sejak dini penting dilakukan karena sejumlah permasalahan yang ada di panti asuhan. Beberapa diantaranya adalah perbandingan antara jumlah pengaruh dan anak asuh kurang ideal, karakteristik dan latar belakang anak asuh beragam, keterbatasan dukungan dana dan sarana prasarana jika dibandingkan dengan jumlah anak asuh, dan kompetensi minat serta latar belakang pengasuh panti yang berbeda-beda.

Terdapat beberapa PHBS yang perlu diajarkan pada anak asuh. Yaitu kebiasaan mandi dan gosok gigi sehari dua kali, mencuci rambut dua kali dalam seminggu, bersisir dan berpakaian rapi ke sekolah, mencuci tangan sebelum makan, mencuci tangan dan kaki sebelum tidur, dan memotong kuku seminggu sekali. “Pada penelitian kami, diketahui bahwa pembelajaran efektif untuk membentuk PHBS di panti asuhan adalah dengan melalui pendekatan kelompok sebaya karena keterbatasan jumlah pengaruh,” lanjutnya.

Terdapat beberapa kelompok sebaya di panti asuhan berdasarkan usia perkembangan. Sebagai contoh kelompok usia pra sekolah, kelompok usia sekolah dasar, dan kelompok usia sekolah menengah. 

Kelompok usia sekolah menengah merupakan kelompok usia yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia anak asuh yang lain. Sehingga, kelompok usia tersebut diberi tanggung jawab untuk menjadi contoh yang baik bagi kelompuk usia yang lebih muda.

“Kelompok usia yang lebih tinggi harus mampu berperan sebagai pendamping adik asuhnya dalam pembelajaran PHBS,” ucap Nurul.

Sementara itu, guru dan pengaruh berperan sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap semua anak asuh yang ada di panti asuhan. Sehingga, hubungan yang terjadi pada lembaga tersebut merupakan hubungan antar individu sebagai keluarga.

“Dalam sebuah keluarga, setiap individu yang ada di dalamnya harus mampu mengambil peran agar keluarga dapat menjalankan proses pembelajaran dengan benar sesuai dengan tanggung jawab dan tugas masing-masing,” pungkasnya.

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Khefti Al Mawalia

Reference : Nurul Hartini, Faculty of Psychology, Universitas Airlangga, Surabaya – Indonesia. Good Characters Learning among Children Aged between Three Years and Six Years Old based on Clean and Healthy Life Behavior. Terbit pada Journal of Advance Research in Dynamical & Control Systems, Vol. 11, Special Issue-05, 2019. P. 1308-13012

Link : http://www.jardcs.org/abstract.php?id=1513

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu