Mahasiswa Sasindo Ini Gagas Ruang Informasi Seni, Budaya, dan Sastra di Era Digital

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MUHAMMAD Yusuf Awali Taufiqi Founder Wara-Wara Project. (Foto: Dok. Pribadi)
MUHAMMAD Yusuf Awali Taufiqi Founder Wara-Wara Project. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Kurangnya penyebarluasan informasi seni, budaya, dan sastra berimbas pada kemajuan dan masa depan para seniman. Hal tersebut disebabkan oleh mulai terkikisnya jumlah penonton dan kurangnya apresiasi dari kaum muda.

Merespons mirisnya fenomena tersebut, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) merintis ruang publikasi khusus seni, budaya dan sastra. Dia adalah Muhammad Yusuf Awali Taufiqi mahasiswa angkatan 2017 bersama keempat rekannya ia meluncurkan official account yang diberi nama “Wara-Wara Project”.

Wara-Wara Project hadir menjawab keresahan pecinta dan pegiat seni, budaya, dan sastra dalam mencari informasi pementasan. Hadirnya ruang publikasi tersebut memudahkan generasi z dan milenial dalam mendapatkan informasi hanya melalui gawai mereka.

“Motivasi saya mendirikan wara-wara project karena minimnya akses informasi seni, budaya, dan sastra di Kota Surabaya. Hal tersebut dikarenakan tidak berada dalam komunitas atau lingkaran kesenian, seperti halnya para perantau dan orang asing yang tidak tau lingkungan sekitar,” tegas Awali.

Minimnya apresiasi untuk industri kesenian disebabkan oleh pihak yang mendapatkan informasi tidak selalu datang melihat. Hal tersebut akan berimbas pada kemajuan dan perkembangan dunia seni, budaya, dan sastra saat ini, karena itu penggencaran publikasi secara modern harus dilakukan.

Awali mengakui modal awal dalam membangun Wara-Wara Project adalah relasi dan juga gawai yang sudah dimiliki. Dia menjelaskan saat itu ia sedang menjadi mahasiswa baru UNAIR, lalu menawarkan di grup jurusan perihal Wara-Wara Project dan terdapat empat teman yang mau membantunya.

Tujuan Wara-Wara Project adalah untuk mengungkap sastra dari persembunyian karena penyebaran sebelumnya hanya melalui mulut ke mulut dan poster. Hal tersebut tentu tidak akan terdeteksi di internet jika dicari.

“Rencana ke depan Wara-Wara Project tidak hanya menjadi ruang informasi, namun juga membantu sobat wara untuk berkarya. Seperti halnya membentuk loka karya dan diisi oleh sobat wara, lalu jika di Surabaya sudah terbentuk ekosistem ruang informasi kesenian, maka akan membangun di kota lain juga,” ujar mahasiswa asli Surabaya tersebut.

Baru-baru ini Wara-Wara Project berhasil menyabet juara I pada kompetisi Kemah Budaya Kaum Muda yang diselenggarakan Kemendikbud. Menurut Awali, mereka mengikuti kategori purwarupa aplikasi dan berhasil mendapatkan dana hibah 50 juta untuk pengembangan aplikasi Wara-Wara Project.

“Lihat masalah disekitar kalian dan pahamilah apa yang dibutuhkan, lalu pikirkan apa yang bisa kalian lakukan untuk mengatasi hal tersebut,” tutupnya. (*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu