KM UNAIR Bersama EKM UB Kediri, Siap Bersinergi Demi Pemerataan Pendidikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dari kiri Apriyansyah (Sekretaris Jendral EKM), Bondan Sigit (Ketua KM), Sunu Cahyo (Presiden EKM), dan Melan Argarini (Wakil Ketua KM). (Foto: Ananda Wildhan)

UNAIR NEWS – Progam Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) merupakan pelaksanaan kegiatan pendidikan tinggi oleh perguruan tinggi diluar Kampus Utama. Dasar hukum penyelenggaraan PSDKU adalah Peraturan Mentri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pembukaan, Perubahan dan Penutupan Program Studi di Luar Kampus Utama Perguruan Tinggi, sebelumnya dikenal dengan nama Program Studi Di Luar Domisili (PDD) berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2011. Beberapa contoh kampus PSDKU di Indonesia yaitu, PSDKU UNAIR di Banyuwangi, PSDKU UB di Kediri, PSDKU UNPAD di Pangandaran, PSDKU IPB di Sukabumi, dll.

Dalam pelaksanaanya di Indonesia, kampus PSDKU menuai hal positif dan negatif. Hal positifnya menciptakan pemerataan pendidikan tinggi di seluruh daerah di Indonesia. Namun, muncul juga hal negatif, dimana dalam proses berdirinya seringkali terdapat berbagai macam persoalan yang justru menggambarkan kurangnya pemerataan kualitas pendidikan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Eksekutif Keluarga Mahasiswa (EKM) PSDKU Universitas Brawijaya di Kediri melaksanakan sebuah forum bersama Keluarga Mahasiswa (KM) PSDKU UNAIR di Banyuwangi, yang dilaksanakan pada Sabtu (26/10) di Aula Minak Jinggo kantor Pemda Banyuwangi.

“Tidak hanya sebuah agenda kunjungan kerja untuk studi banding saja, namun kami datang ke Banyuwangi juga untuk bertukar pikiran dengan teman-teman Banyuwangi terkait pelaksanaan kampus PSDKU di indonesia,” ungkap Sunu Cahyo selaku Presiden EKM UB Kediri 2019.

Bondan Sigit, Ketua KM UNAIR Banyuwangi pun menerima dengan senang hati niat baik dari EKM UB Kediri.

“KM UNAIR Banyuwangi dan EKM UB Kediri sebenarnya memiliki visi dan misi yang sama, terkait kampus PSDKU di Indonesia, dan semoga kesempatan kali ini menjadi pintu utama dalam hal baik itu,” ungkapnya.

Dalam forum focus group discussion (FGD) yang melibatkan pengurus EKM UB Kediri dan KM UNAIR Banyuwangi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kampus UNAIR Banyuwangi dan UB Kediri memiliki permasalahan internal yang hampir serupa. Mulai dari birokrasi yang kurang terstruktur dengan baik, lemahnya dukungan dari berbagai pihak, hingga infrastruktur pendukung akademik yang kurang memadahi.

“Itulah mengapa saya kurang sepakat jika UNAIR Banyuwangi disebut sebagai kampus PSDKU terbaik di Indonesia, padahal masih banyak persoalan didalamnya,” imbuh Bondan.

Di akhir pertemuan, EKM UB Kediri bersama KM UNAIR Banyuwangi, sepakat untuk terus mengawal perkembangan kampus PSDKU di seluruh Indonesia, hingga berencana mengumpulkan seluruh Presiden atau Ketua BEM di masing-masing kampus PSDKU yang ada.

“Jadi jangan heran jika nanti ada perkumpulan atau semacam kongres mahasiswa PSDKU se-Indonesia, karena memang hal itu dibutuhkan, demi pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia,” pungkas Bondan.

Menambahkan Bondan, Sunu Cahyo selaku Predisen EKM UB Kediri berpesan kepada seluruh pihak, bahwa dibalik permasalahan yang ada, mahasiswa kampus PSDKU terus berbenah demi terciptanya iklim kampus yang kondusif dan terstruktur dengan baik.

“Namun, hal itu tentunya juga membutuhkan dukungan dari semua pihak dan elemen,” tandasnya. (*)

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu