Kenalkan Pencatatan Kesehatan dalam Bentuk Software pada Anak Sekolah Dasar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MAHASISWA Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga saat mengadakan pengabdian masyarakat di SD Negeri 1 Pegirian Surabaya pada Jumat (26/10). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pencatatan kesehatan pada seorang individu harus dilaksanakan secara berkala hingga ia beranjak dewasa. Namun, dalam praktiknya, masih kerap ditemui proses pencatatan yang belum terintegrasi dan berjalan tidak optimal. Padahal, laporan hasil pencatatan tersebut sangat diperlukan guna memantau status kesehatan seseorang.

Di Indonesia, catatan medis milik setiap individu belum tersusun dengan utuh. Hanya pada beberapa bagian tertentu yang sudah mulai diintegrasikan. Sebagai contoh, adanya buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), catatan Program Pembinaan Pos Terpadu (Posbindu), serta catatan Pos Pelayanan Keluarga Berencana-Kesehatan Terpadu (Posyandu) Lansia. Berbeda halnya dengan pencatatan kesehatan anak usia sekolah yang masih bermasalah.

Guna mengatasi persoalan pencatatan kesehatan anak usia sekolah yang belum terintegrasi dengan baik, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga menggelar pengabdian masyarakat. Kegiatan tersebut bertajuk “Penerapan Buku Catatan Kesehatan Sekolah untuk Peningkatan Status Kesehatan Siswa melalui program software”.

“Tujuannya untuk membantu puskesmas sekaligus pemerintah dalam menyusun catatan kesehatan anak usia sekolah secara utuh. Bedanya, kita membuat software yang dapat meng-input data kesehatan sehingga tidak lagi melalui data tertulis. Jadi bisa menggunakan ponsel atau komputer saat mengakses. Nantinya, software akan dipegang oleh para guru di sekolah dan bisa dipantau pihak puskesmas,” terang Ghaisani Ikramina.

Kegiatan pengmas yang diadakan pada Jumat (26/10) di Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Pegirian Surabaya ini sekaligus menjadi ajang sosialisasi kesehatan pada anak-anak usia dini beserta guru-guru. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan atas keberadaan fasilitas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) juga pelopor kesehatan yakni dokter kecil dan kader siswa.


SOSIALISASI oleh dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga kepada pengajar SD Negeri 1 Pegirian Surabaya terkait pencatatan kesehatan melalui software. (Foto: Istimewa)

“Sosialisasi berlangsung lancar karena anak-anak sudah mengerti bentuk kegiatan kesehatan, seperti halnya dokter kecil. Kami tinggal memberikan intervensi lain termasuk program dari Kementerian Kesehatan yaitu pencatatan kesehatan. Total, ada 25 siswa yang dibina. Selain itu, kami juga melakukan sosialisasi kepada guru yang dilatih langsung oleh para dosen. Alhamdulillah, semua aktif,” jelas mahasiswi yang akrab disapa Gege itu.

Pembagian sosialisasi dilakukan karena terdapat perbedaan antara materi yang diberikan kepada siswa dengan yang diberikan pada guru. Materi untuk siswa berupa gaya hidup, reproduksi, pemeriksaan gizi, dan indeks masa tubuh (IMT). Sementara materi guru terdiri dari kesehatan anak, imunisasi, kesehatan keluarga, kesehatan mental, serta intelegensia. Selain itu, mereka juga menyediakan sebanyak 40 rapor kesehatan untuk diisi dokter kecil.

“Selanjutnya, kami akan melakukan monitoring untuk pengisian rapor secara manual di buku dan sosialisasi tentang software yang saat ini masih dalam tahap pengembangan. Ada sejumlah dosen yang terlibat dalam pengmas ini, antara lain Dr. Diah Indriani S.Si., M.Si., Yuli Sulistyorini S.KM., M.Kes., Dr. Rachmah Indawati S.KM., M.KM., Prof. Kuntoro dr. M.PH., Dr. PH., Ir. Dr. Soenarmatalina M. Kes., Dr. Hari Basuki dr. M. Kes., Ir. Dr. Mahmudah M. Kes juga enam orang mahasiswa beserta dua orang alumni,” tambah Gege.

Diah Indriani selaku ketua pengmas berharap agar ke depan pencatatan kesehatan melalui rapor kesehatan yang diberikan dapat dilakukan secara rutin. Jika hal ini diterapkan, maka status kesehatan siswa dapat teridentifikasi sejak dini sehingga ada upaya preventif yang dapat dilakukan. Sebab, penting bagi guru serta orang tua untuk memahami kondisi siswa supaya proses belajar mengajar berjalan lebih efektif dan sehat.

“Harapan lainnya adalah sekolah, perguruan tinggi, serta puskesmas dapat saling bersinergi untuk upaya lebih lanjut mengenai program kesehatan. Sebab, program kesehatan akan menjadi lebih tepat sasaran apabila data pendukungnya, dalam hal ini catatan kesehatan masyarakat, tersedia dengan runtut dan lengkap,” pungkas Diah. (*)

Penulis : Nabila Amelia

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu