FKH UNAIR Banyuwangi Sukses Gelar CAPRA

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sesi foto bersama usai kegiatan CAPRA. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Profesi dokter hewan semakin diminati oleh berbagai kalangan masyarakat. Sebagai seorang dokter hewan, kompetensi dan keahlian menjadi modal utama untuk dapat terjun di masyarakat. Tak jarang seorang dokter hewan harus menangani berbagai kasus yang membutuhkan skill dan keterampilan lebih. Salah satu kasus yang sering ditangani oleh dokter hewan praktisi lapangan yaitu kasus gangguan reproduksi.

Sebagai contoh kasus gangguan reproduksi pada ternak yaitu proses partus atau kelahiran. Secara normal, ternak yang bunting dan telah siap untuk melahirkan akan menunjukkan beberapa tanda-tanda sebelum kelahiran, seperti gelisah, susah tidur, ambing besar dan mulai keluar lendir dari vulva atau kemaluannya. Maka, jika kondisi induk dan anak dapat melahirkan secara normal, itu akan lebih baik.

Akan tetapi, tak jarang juga dalam proses kelahiran tersebut, terjadi beberapa gangguan, baik itu pada induknya sendiri ataupun pada calon anak yang akan dilahirkan. Istilah tersebut dapat dikenal dengan Distocia.

Akibat dari kesulitan kelahiran ini menyebabkan angka mortalitas stillbirth, neonatal, induk meningkat. Selain itu, reproduktivitas induk menurun, penyakit purpural meningkat dan kemungkinan afkir induk meningkat.

Dewasa ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai teknik dalam mengatasi atau menangani distocia  sudah sangat berkembang pesat. Salah satu teknik yang sedang booming dilakukan yaitu Caesar.

Untuk menjawab hal tersebut, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga di Banyuwangi mengadakan Seminar Nasional bertajuk CAPRA 2019. Acara tersebut dilaksanakan pada akhir pekan kemarin di Ballroom hotel Ikhtiar Surya Banyuwangi.

Acara diikuti oleh 90 orang peserta dari berbagai kalangan baik dari dokter hewan dinas, praktisi, mahasiswa co-as dan mahasiswa FKH. Dalam kegitan seminar tersebut juga dibarengi dengan demo langsung dan workshop mengenai teknik bedah caesar pada kambing. Adapun tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut yaitu “Caesar Pada Kambing Sebagai Sarana Pengembangan Ilmu Reproduksi Serta Alternatif Pembelajaran Enterpreneurship”.

Dr. Abdul Samik, drh. M.Si. selaku pemateri dan supervisor menyampaikan bahwa secara definisi Caesar merupakan suatu proses pengeluaran Fetus atau anak dari uterus induk secara pembedahan selama proses kelahiran dengan melakukan insisi pada abdomen atau rongga perut. Kepala departemen reproduksi FKH UNAIR itu menyebut, beberapa persiapan sebelum melakukan operasi caesar yaitu persiapan alat bedah, jarum jahit, benang jahit serta obat-obatan penunjang.

“Dalam memilih posisi daerah operasi, yang lebih dominan dipilih yaitu daerah flank kiri atau paralumbal”, jelasnya. “Beberapa keuntungan memilih posisi tersebut yaitu resiko kerusakan insisi sedikit, resiko kontaminasi sedikit dan penyembuhan luka insisi mudah teramati,” imbuhnya.

Setelah semua persiapan alat dan bahan dilakukan, tindakan selanjutnya yaitu restrain ternak dan melakukan pencukuran bulu di area operasi, anastesi lokal, tindakan operasi dan terakhir penjahitan area insisi.

“Prinsipnya, operasi bedah caesar bisa dikatakan berhasil apabila induk dan anak dapat diselamatkan serta post operasi reproduksi induk kembali normal”, tandasnya. “Kemampuan operasi bedah caesar ini masih sangat jarang dimiliki oleh para dokter hewan, saya harapkan para peserta yang mengikutikegitan ini dapat memanfaatkan ilmu ini dengan sebijak-bijaknya”, pungkasnya. (*)

Penulis : Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu