Fakultas Farmasi Kembangkan Inovasi Produk Jamu di Bantul Yogyakarta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Peserta dan tim pengabdian masyarakat melakukan pelatihan pembuatan es krim herbal. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Fakultas Farmasi Universitas Airlangga kembali menggelar kegiatan rutin pengabdian masyarakat pada akhir pekan lalu. Bertempat di wilayah binaan Dusun Kiringan-Jetis Yogyakarta, kegiatan itu telah berlangsung semenjak tahun 2017.

Desa wisata jamu gendong Kiringan yang terletak di Dusun Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu, sekitar 80% penduduk desa tersebut berprofesi sebagai pengrajin jamu. Jamu gendong produksi dusun ini telah tersedia dalam kemasan bentuk jadi dan setengah jadi. Bentuk jadi tersebut misalnya beras kencur dan kunir asam yang telah dikemas dalam botol yang siap diminum.

Pada tahun 2017 tim pengabdian masyarakat FFUA telah memfasilitasi dengan pengetahuan mengenai pembuatan jamu beras kencur dan kunir asam dengan tujuan untuk bisa mendapatkan ijin PIRT (produk industri rumah tangga). Hasil nyata diperoleh dengan keluarnya ijin PIRT tersebut di tahun berikutnya (2018) dan sertifikat halal di awal tahun 2019. Pada tahun 2018, tim pengabdian masyarakat FFUA memberikan pelatihan diversifikasi produk dalam bentuk permen dan sediaan potpourri yang ternyata dengan cepat dapat mereka kembangkan.

Menyadari perkembangan jamu di Dusun Kiringan, maka diperlukan pengetahuan diversifikasi produk atau penganekaragaman produk guna memaksimalkan keuntungan. Rr. Retno Widyowati S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt (FFUA) sebagai ketua kegiatan ini menyatakan dipilihnya es krim sebagai salah satu bentuk diversifikasi dengan pertimbangan.

“Dibuat dengan menggunakan susu yang memiliki kandungan kalsium serta nutrisi yang bermanfaat untuk tulang, kaya gizi, bahan-bahan yang terkandung di dalam es krim yaitu seperti protein serta berbagai jenis vitamin, dan cara pembuatan sederhana dan mudah, maka dipilihlah es krim kunyit asam, beras kencur dan rosela sebagai bahan dasarnya,” ujarnya.

Di sisi lain produk jamu di Dusun Kiringan masih menggunakan jenis kemasan terbatas yaitu berupa botol plastik atau kemasan plastik yang lain. Untuk itu, Dr. Wiwied Ekasari, M.Si., Apt  (FFUA) sebagai pemateri inovasi kemasan jamu menyatakan bahwa diperlukan pengetahuan tentang variasi jenis kemasan yang tepat dan sesuai dengan produk.

“Sehingga menjadikan produk lebih awet serta akan menambah nilai jual untuk produk,” tandasnya.

Kegiatan ini terlaksana atas bantuan dana RKAT 2019 dari FFUA dan bekerja sama dengan Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan yaitu Dr. Iis Wahyuningsih, M.Si., Apt beserta mahasiswanya dalam pelaksanaan di lapangan. Kegiatan dihadiri sebanyak 30 orang peserta mayoritas berusia 30-40 tahun dan berpendidikan SMU. Program berjalan sesuai rencana dan pengrajin jamu mendapat pengetahuan dan ketrampilan yang baru terkait pembuatan es krim dari jamu dan teknologi kemasan produk jamu.

Penulis: Tim Pengmas FF UNAIR

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu