Adismara Putri Pradiri Bantu Atasi Masalah Kesehatan Mental di Indonesia Melalui Aplikasi Riliv

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ADISMARA Putri Pradiri (kiri) menerima cindera mata dari Nurul Dewi Oktavia pada Minggu (27/10/19) di Aula Serbaguna Gedung Nanizar Zaman Yoenoes Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR). (Foto : istimewa)

UNAIR NEWS – Riliv merupakan aplikasi curhat online yang didampingi oleh para psikolog untuk melakukan konsultasi. Aplikasi tersebut hadir untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan mental di Indonesia. Karena berbasis online, maka masyarakat dapat dengan mudah melakukan konsultasi dengan psikolog hanya melalui perantara handphone.

Adismara Putri Pradiri merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR). Dia adalah Head of Content Riliv yang hadir menjadi narasumber dalam acara Seminar dan Talkshow Bulan ISMKMI (Bulis, Red) pada Minggu (27/10/19) di Aula Serbaguna Gedung Nanizar Zaman Yoenoes Fakultas Farmasi Kampus C UNAIR.

Dalam acara tersebut, ia mengatakan bahwa konseling tatap muka dan konseling yang dilakukan secara online memiliki tingkat efektifitas yang sama. Hal tersebut dikarenakan konseling tatap muka dan konseling online memiliki sasaran yang berbeda. Konseling tatap muka biasanya dilakukan oleh masyarakat yang membutuhkan terapi, sedangkan konseling online memiliki kekuatan yaitu anonim.

“Kalau konseling tatap muka itu untuk teman-teman dengan masalah yang membutuhkan terapi, mungkin depresi, depresi yang membutuhkan terapi, fobia atau skizofrenia. Sedangkan konseling online memiliki kekuatan yaitu namanya anonim, orang-orang tidak tau siapa kalian jadi kalian bebas menjadi diri kalian sendiri dan bisa bercerita tanpa takut dihakimi,” ungkapnya.

Keefektifan riliv, dibuktikan dengan sekitar 200.000 orang telah menggunakan jasa aplikasi tersebut dan 99% mengatakan mereka puas atas pelayanan yang didapat. Tidak hanya konseling, riliv membagikan pengetahuan baru seputar kesehatan mental melalui akun instagramnya. Dengan cara tersebut, maka masyarakat bisa aware atau peduli terhadap kesehatan mental diri masing-masing.

Permasalahan psikologis atau masalah kesehatan mental itu diartikan sebagai apapun yang dirasakan dalam diri seseorang dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari orang tersebut. Tidak hanya bagi orang yang merasakan kesedihan namun juga orang yang merasakan kesenangan secara berlebihan.

“Permasalahan psikologis adalah ketika apapun yang kita rasakan mengganggu kehidupan kita sehari-hari, misalnya ketika jatuh cinta yang membuat kita lupa makan atau lebih memilih jalan-jalan dari pada kuliah. Meskipun jatuh cinta itu menyenangkan tapi kalau dirasa mengganggu kehidupan sehari-hari maka ada sesuatu yang salah dari hal tersebut,” tambahnya.

Sebagai penutup, Adismara mengungkapkan bahwa di era teknologi yang semakin canggih masyarakat tidak boleh menjadi budak teknologi itu sendiri. Ia menghimbau agar sebisa mungkin masyarakat tidak menjadi korban dari kecanggihan teknologi yang ada di masa sekarang karena hal tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan mental.

“Yang paling penting adalah sadari bahwa teknologi kalian yang pegang, kalian bukan budak teknologi, budak instagram, budak konten. Intinya jangan sampai kalian menjadi korban teknologi, kalian harus menjadi penguasa atas teknologi itu,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dita Aulia Rahma

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu