Penyebab Deforestasi Hutan Bakau di Asia Tenggara

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Portonews

Hutan bakau adalah ekosistem yang tersebar melintasi zona pesisir di garis khatulistiwa dan daerah subtropis, terutama yang terletak pada garis lintang 30°LU dan 30°LS. Ekosistem tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor abiotik seperti suhu, arus, pasang surut, tanah, iklim, pH, pasokan air tawar, dan salinitas. Studi terbaru menunjukkan bahwa hutan bakau menyerap lebih banyak karbon dibandingkan hutan hujan. Dengan demikian, ekosistem ini dapat berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon secara signifikan dan dapat muncul sebagai salah satu solusi utama dalam strategi mitigasi perubahan iklim global. Ekosistem hutan mangrove terutama tumbuh di air payau dan terpapar oleh akumulasi bahan organik serta pasang surut air laut. Jenis hutan ini tersebar luas di daerah pesisir tropis dan subtropis. Studi terbaru mengungkapkan bahwa hutan bakau ekosistem telah terdegradasi secara signifikan karena Perubahan Penggunaan Lahan dan Penutupan (LUCC) belakangan ini. Bahkan antara tahun 2000-2012, tutupan hutan bakau global telah berkurang 164.600 ha (1,97%) dengan perkiraan tingkat kerugian global 13.700 ha atau 0,16% per tahun. Penelitian ini memberikan pendekatan alternatif untuk kontekstualisasi hilangnya hutan mangrove dengan cara mengintegrasikan set data lingkungan dan produk sosial ekonomi yang tersedia.

Aktivitas antropogenik yang sering menjadi penyebabnya deforestri adalah konversi penggunaan lahan menjadi pertanian dan akuakultur. Sejak tahun 2000 hingga 2012, akuakultur adalah pendorong utama perubahan ekosistem mangrove. Aktivitas selanjutnya adalah budidaya padi yang juga merupakan pendorong dominan hilangnya hutan bakau di Myanmar, serta konversi menjadi perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan Indonesia. Produk dataset lingkungan dan sosial ekonomi dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi 3 pendorong utama deforestasi, berdasarkan kompatibilitas analisis dilakukan untuk menilai akurasi parameter dalam memperkirakan faktor antropogenik yaitu: pertanian, akuakultur, dan infrastruktur. Keakuratan hasil dievaluasi dengan mengamati 100 area yang terdiri atas 50 sampel kelas pertanian, 40 sampel kelas akuakultur, dan 10 kelas infrastruktur. Selain itu penggunaan lahan dan sosial ekonomi berhasil diplot,  kelas ini dapat diidentifikasi sebagai hutan bakau yang terdeforestasi yang tidak dikonversi menjadi penggunaan lahan tertentu tetapi diikuti dengan peningkatan kepadatan populasi dan radiasi cahaya malam.

Penelitian ini berhasil mengungkapkan bahwa 22,64% dari total area hutan mangrove telah menjadi gundul karena dikonversi menjadi lahan pertanian, 5,85% dikonversi menjadi akuakultur, 0,69% dikonversi menjadi infrastruktur, dan 16,35% tidak dikonversi menjadi kelas penggunaan lahan spesifik tetapi masih terpengaruh oleh aktivitas manusia lainnya. Pendorong deforestasi yang paling dominan di Myanmar, Malaysia, Thailand, dan Timor Leste adalah konversi lahan pertanian sedangkan di Filipina dan Kamboja adalah konversi lahan akuakultur. Namun, pendorong deforestasi yang paling dominan diidentifikasi berbeda di Indonesia, Vietnam, dan Brunei. Konversi lahan pertanian sebagian besar terjadi di Myanmar, Malaysia, dan Thailand; konversi lahan budidaya sebagian besar terjadi di Indonesia, Filipina, dan Kamboja; dan konversi lahan infrastruktur sebagian besar terjadi di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa persentase tanah terkena dampak faktor antropogenik bervariasi antara negara dan wilayah. Pada skala regional, hutan bakau di Kalimantan adalah yang paling signifikan terkena dampak aktivitas antropogenik; penyebabnya yang paling sering adalah deforestasi untuk konversi penggunaan lahan menjadi pertanian dan akuakultur. Sejak tahun 2000 hingga 2012.

Penelitian ini dapat memfasilitasi pertukaran analisis untuk studi kebijakan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. Berbeda strategi pengelolaan dapat dievaluasi untuk menilai trade-off antara melestarikan hutan bakau hutan untuk mitigasi perubahan iklim dan mentransformasikannya untuk tujuan ekonomi. Faktor antropogenik dan naturogenik lainnya seperti abrasi, polusi, sedimentasi, keseimbangan air, masalah iklim, hama, dan penyakit menjadi bagian penelitian di masa depan untuk meningkat keakuratan analisis deforestasi bakau. Oleh karena itu, tambahan data lingkungan dan produk sosial-ekonomi perlu menjadi kajian sekunder. Selanjutnya, resolusi spasial data lingkungan dan produk sosial ekonomi yang diterapkan dalam penelitian ini dapat ditingkatkan. Dengan demikian seperti yang ditemukan di Indonesia, deforestasi mangrove yang tersebar luas secara spasial dan yang terjadi di daerah menjadi relatif kecil sehingga dapat diatasi secara efektif. Karena itu, kontribusi pendorong deforestasi mangrove harus ditetapkan untuk memastikan analisis komprehensif bagi konservasi dan pemulihan ekosistem serta memfasilitasi pengambilan keputusan dan kebijakan.

Hutan Bakau di Asia Tenggara mengalami laju deforestasi 3,58% -8,08% per tahun dari 2000 hingga 2012, lebih tinggi daripada yang ada di seluruh dunia. Hal lain yang perlu disampaikan adalah bahwa lebih dari 50% hilangnya hutan bakau belum teridentifikasi alih fungsinya.

Penulis: Bambang Irawan

Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga

Catatan:

Artikel ilmiah populer ini disarikan dari artikel yang dipublikasikan di Jurnal Internasional Q1:

Adam Fauzi, Anjar Sakti, Lissa Yayusman, Agung Harto, Lilik Prasetyo, Bambang Irawan, Muhammad Kamal and Ketut Wikantika. Contextualizing Mangrove Forest Deforestation in Southeast Asia Using Environmental and Socio-Economic Data Products. Forest, 2019, 10, 952; doi:10.3390/f10110952. Copyright@MDPI. ISSN 19994907.

Link: https://www.mdpi.com/1999-4907/10/11/952

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu