Ternyata, Pengeluaran Perkapita Non-Makanan Bisa Pengaruhi Persentase Kemiskinan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Salah satu indikator keberhasilan pembangunan sebuah negara adalah dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,  dapat mengurangi jumlah pengangguran ataupun kemiskinan yang ada di negara tersebut.

“Jika dilihat, Kondisi kemiskinan suatu negara dapat ditengok dari cerminan tingkat kesejahteraan penduduk yang tinggal di negara itu” ungkap Chamidah, Dosen Matematika Fakultas Sains Dan Teknologi (FST) UNAIR.

Kemiskinan, kata Chamidah, dapat terjadi apabila tingkat pendapatannyatidak dapat memenuhi pengeluaran yang diperlukan untuk kebutuhan hidup. Dan ternyata, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), hal itu dapat dipengaruhi dua hal,  yakni pengeluaran perkapita yang dikategorikan kelompok makanan dan non-makanan.

Pengeluaran perkapita menurut kelompok makanan dan non-makanan, ungkap Chamidah,dapat dihitung selama sebulan dari konsumsi setiap rumah tangga, lalu dibagi dengan banyaknya rumah tangga yang ada di Indonesia.

Untuk menguraikan permasalahan itu, Chamidah bersama A. Massaid, M. Hanif, dan D. Febrianti menulis jurnal terindeks scopus berjudul “Modeling of Proverty Precentage of Non-Food Per Capita Expenditures in Indonesia Using Least Square Spline Estimator”.

Dalam penelitiannya, ia berfokus pada pengeluaran non-makanan, yakni pandangan teori Hukum Engel yang menyatakan bahwa semakin besar proporsi pengeluaran non-makanan, maka semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat.Namun sebaliknya, semakin kecil proporsi pengeluaran non-makanan, merefleksikan tingkat kesejahteraan masyarakatnya yang semakin menurun.

“Karena jumlah penduduk miskin cenderung mengalami perubahan berdasarkan pengeluaran perkapita,” ujarnya.

Pada akhir, ia juga mengatakan, berdasarkan kriteria goodness of fit yaitu MSE, disimpulkan bahwa dengan pendekatan model linier lokal, yakni berdasarkan estimator spline, ternyata lebih baik daripada pendekatan linier global (parametrik). Berdasarkan hasil estimasi model, tandasnya, dapat menjelaskan bahwa jika variabel pengeluaran perkapita kurang dari 0,47 juta rupiah, maka setiap kenaikan satu juta rupiah pengeluaran perkapita non-makanan akan menurunkan presentase kemiskinan di Indonesia sebesar 68,71 persen.

“Jadi pengaruh peningkatan pengeluaran perkapita non-makanan terhadap penurunan persentase kemiskinan di Indonesia itu dikatakan besar jika pengeluaran perkapita non-makanan kurang dari 0,47 juta rupiah,” pungkasnya.

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Nuri Hermawan

Link      : https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/546/5/052044/pdf

A Massaid, M.Hanif, D. Febrianti, N. Chamidah. 2019.Modeling of Proverty Precentage of Non-Food Per Capita Expenditures in Indonesia Using Least Square Spline Estimator. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering 546.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu