Pemberdayaan Masyarakat Suku Madura dalam Pemberian Asi Eksklusif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Halodoc

Asi eksklusif merupakan pemberian makanan pada bayi selama enam bulan pertama yang berguna untuk sistem imunitas pada bayi (Soomro et al., 2016). Dampak bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif adalah sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit seperti infeksi saluran pernafasan dan pencernaan, resiko alergi dan penyakit jantung, serta terganggunya perkembangan kecerdaan kognitif (Sulistiyowati & Siswantara, 2014).Angka cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Sampang masih  jauh di bawah target, dibuktikan dengan bayi yang mendapatkan ASI ekslusif sebesar 35% dibandingkan dengan target sebesar 75% (Kabupaten Sampang, 2016). Ibu di wilayah Puskesmas Sreseh Sampang tidak sepenuhnya menerapkan pemberian ASI eksklusif, hanya 24% ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

Banyak faktor yang menyebabakan rendahnya pemberian ASI eksklusif di suku Madura, antara lain semakin banyak ibu yang percaya  bahwa pemberian ASI saja tidak cukup mengenyangkan untuk bayinya sehingga timbul budaya ibu memberikan makanan pendamping ASI (MP – ASI) salah satunya memberikan pisang saat sebelum bayi berusia 6 bulan (Wijayanti & Meilisa, 2011). Menurut Yulifah (2015) dukungan sosial sangat berpengaruh  terhadap pemberian ASI eksklusif,  dukungan yang dimaksud adalah dukungan dari suami, keluarga, tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan. Yulifah (2017) mengungkapkan bahwa untuk meingkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif diperlukan adanya pemberdayaan dan dukungan dari Masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang pemberdayaan masyarakat suku madura dalam pemberian asi eksklusif di wilayah puskesmas sreseh sampang madura.

Hasil Penelitian yang dilakukan adalah  terdapat hubungan antara pemberdayaan masyarakat dengan pemberian ASI eksklusif,  hal ini berarti bahwa semakin baik pemberdayaan masyarakat yang diberikan, maka semakain tinggi tingkat pemberian ASI eksklusif. Menurut Stegen (2012) untuk mewujudkan cakupan pemberian ASI eskklusif salah satu nya dengan pemberdayaan masyarakat yang mendukung pemberian ASI eksklusif terhadap ibu hamil, post partum dan ibu menyusui. Masyarakat yang dimaksut dalam hal ini adalah suami,keluarga,tokoh agama dan petugas kesehatan. Pemberdayaan yang dapat dilakukan adalahdiperlukan adanya  pengetahuan tentang ASI eksklusif yang dapat diberikan oleh petugas kesehatan dan kader setempat melalui informasi dan mengidentifikasi fasilitator yang dapat berkontribusi dan memotivasi pada pengembangan kebijakan serta intervensi yang efektif (Kohan et al, 2016). Menurut Mahmood (2010), tindakan dan nasehat para tokoh masyarakat dan pemuka agama selalu memiliki pengaruh dalam masyarakat. Peran mereka dalam menyebarluaskan berbagai kebijakan, ilmu yang berguna dan ajaran yang berlaku begiu besar. Peran serta tokoh agama dapat menjadi salah satu kunci keberhasilan karena dapat meyakinkan nilai kebaikan dari pemberian ASI eksklusif. Kebanyakan ibu lebih percaya kepada tokoh agama atau masyarakat yang dihormati dibandingkan dengan petugas kesehatan. Oleh karena itu jika informasi mengenai ASI diberikan oleh tokoh masyarakat, akan lebih bisa diterima pada ibu (Mahmood, 2010).

Dukungan dari sosial dan keluarga juga berperan penting dalam pemberian ASI eksklusif karena sosial dan keluarga berfungsi sebagai sistem pendukung anggota nya dan ditujukan untuk meningkatkan kesehatan dan proses adaptasi (Leininger, 2002). Dukungan yang diberikan berupa kemampuan keluarga dan sosial dalam menyediakan waktu, perhatian dan dukungan kepada ibu dalam  pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Hal ini sesuai dengan teori pemberdayaan masyarakat dimana keberasaan dukungan sosial, keluarga,tingkat pengetahuan masyarakat dan ketersdiaan informasi sangat dibutuhkan dalam proses pemberian ASI eksklusif (Juber, 2017). Faktor lain yang berperan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif adalah adanya kebudayan  atau norma negatif  yang berlaku contohnya adalah pemberian makanan MP – ASI sebelum umur enam bulan. Menurut  Leininger (2002) budaya adalah norma atau tindakan yang dipelajari, dibagi serta memberikan petunjuk bertindak dan mengambil keputusan. Budaya merupakan keyakinan, sikap dan kebiasaan  yang dilakukan oleh kelompok  masyarakat dan diwariskan kegenerasi berikutnya ( Kozier, 2010).

Pemberdayaan masyarakat yang baik dapat memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Faktor yang paling berperan adalah budaya yang dapat mempengaruhi pemberian ASI. Budaya turun temurun dari orang tua yang diajarkan kepada anak serta budaya umum yang berlaku di masyarakat  membuat pemberian ASI menjadi tidak eksklusif. Peran serta dari petugas kesehata, kader, tokoh msyarakat dan masyarakat sekitar sangat diperlukan untuk memberikan motivasi dan mengajarkan budaya lain  yang dapat mengurangi pemberian MP – ASI dini dan dapat meningkatkan  angka cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Sreseh Sampang.

Penulis: Esti Yunitasari, Hanifa Arsyita Umayro, Ika nur Pratiwi

Informasi detail tentang riset ini dapat dilihat di :

https://www.indianjournals.com/ijor_AdvanceSearch/summary.aspx?query=1&mode=gen

Esti Yunitasari, Hanifa Arsyita Umayro, Ika nur Pratiwi. 2019.Community Empowerment in the Madura Tribe with Exclusive Breastfeeding in the Working Area of Community Health Center Sreseh Sampang Madura. Indian Journal of Public Health Research & Development. Aug2019, Vol. 10 Issue 8.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu