Datangkan SAR, BEM UNAIR Tingkatkan Skill Vertical Rescue di Kaki Gunung Anjasmoro

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah seorang peserta ketika menjajal Single Rope Technique (SRT) pada pelatihan vertical rescue oleh SAR Surabaya di acara Festival Desa 2019 pada Jumat (25/10/19). (Foto : Istimewa)

UNAIR NEWS – Kementerian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Festival Desa Jilid 2 tahun 2019 di Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Jombang. Dusun Pengajaran dipilih sebagai lokasi pengmas karena memiliki potensi daerah pegunungan yang berada di kaki Gunung Anjasmoro. Salah satu kegiatan dalam pengmas adalah mengadakan volunteer camp yang diikuti oleh peserta UNAIR maupun luar UNAIR.

Melihat potensi alam daerah pegunungan dan minimnya potensi orang dengan skill vertical rescue di Badan SAR Nasional (Basarnas), Pengmas BEM UNAIR menginisiasi untuk dilaksanakannya pelatihan vertical rescue oleh Search and Rescue Surabaya (SARSU) di Bumi Perkemahan pada Jum’at (25/10/19). Dalam hal ini SARSU telah memiliki uji kompetensi vertical access.

Vertical rescue atau penyelamatan vertikal adalah teknik evakuasi objek dari titik rendah ke titik yang lebih tinggi ataupun sebaliknya, pada medan yang curam baik kering maupun basah.

Pelatihan tersebut diadakan dengan tujuan menumbuhkan minat dan pengetahuan peserta volunteer camp Festival Desa 2019 mengenai vertical rescue. Hal itu dapat menjadi bekal peserta ketika suatu saat akan melakukan pengabdian di suatu daerah dan menjumpai kejadian darurat yang mengharuskan mereka menggunakan teknik evakuasi tersebut.

“Kami datangkan SAR langsung agar menciptakan ketertarikan peserta volcamp dalam melakukan pengandian di daerah seperti ini (daerah dengan potensi pegunungan, Red),” ungkap Iqbal Adi Kurniawan selaku Ketua Festival Desa 2019.

M. Imas Hidayatullah salah seorang pemateri vertical rescue menyampaikan bahwa pengetahuan vertical rescue penting dimiliki oleh masyarakat terutama para pemuda. Selain untuk menambah jam terbang atau sumber daya tenaga yang masih minim, juga untuk meningkatkan skill dalam melakukan penyelamatan, terutama dalam kasus ketinggian.

Kasus yang dapat ditangani dengan metode vertical rescue terbilang banyak. Seperti penyelamatan orang pingsan di tengah lintasan; menggantung; menurunkan orang dari atas tebing ke dasar; penyelamatan korban dari jurang; kejadian di goa dan bencana; dan lainnya.

Dalam kegiatan itu, peserta dikenalkan dengan beberapa peralatan individu dan jenis peralatan utama ketika proses verical rescue. Kemudian, dilakukan juga pengenalan dan praktik teknik simpul dan teknik evakuasi vertical rescue.

Pelatih dari Search and Rescue Surabaya (SARSU) saat memberikan pelatihan vertical rescue. (Foto: Istimewa)

Peserta dengan aktif ikut mempraktikkan apa yang dicontohkan oleh pemateri dan berani mencoba melakukan salah satu teknik yakni Single Rope Technique (SRT). SRT merupakan teknik yang dipergunakan untuk menelusuri gua vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan vertikal. Mencoba teknik ascending dan descending menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta volunteer camp.

“Bagi anak-anak muda sering-seringlah berlatih, entah itu dari navigasi, panjat tebing, atau water rescue dan vertical rescue. Semua itu pasti akan berguna bagi kalian dan orang sekitar ketika kalian melakukan pengabdian dan pada waktu itu juga ada kejadian, jadi kalian siap,” pesan Imas, salah satu pemateri, setelah sesi materi diberikan. (*)

Penulis : Ulfah Mu’amarotul Hikmah

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu