Relawan Pendidikan Bahas Minimnya Akses Literasi dan Ruang Belajar dalam SCOLFEST

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SESI pemberian materi dari Nila Tanzil dan Willy Ariguna di Ruang Serbaguna Fakultas Farmasi pada Sabtu (26/10/19). (Foto: Tondi Lubis)
SESI pemberian materi dari Nila Tanzil dan Willy Ariguna di Ruang Serbaguna Fakultas Farmasi pada Sabtu (26/10/19). (Foto: Tondi Lubis)

UNAIR NEWS – Memperingati tujuh tahun berdiri serta mendorong kepekaan mahasiswa terhadap isu pendidikan bagi generasi muda, SCOLAH UNAIR Mengajar menggelar SCOLAH Festival (SCOLFEST) di Ruang Serbaguna Fakultas Farmasi pada Sabtu (26/10/19). Acara tersebut menghadirkan dua pembicara utama dari kalangan pegiat dan aktivis pendidikan, yakni Nila Tanzil serta Willy Ariguna.

Nila Tanzil hadir selaku founder dari Taman Bacaan Pelangi, yaitu gerakan membangun perpustakaan bagi sekolah-sekolah di daerah Timur Indonesia. Gerakan tersebut telah berhasil membangun 126 perpustakaan anak yang tersebar di 18 pulau di bagian Timur Indonesia.

“Gerakan ini kurintis pertama kali karena aku melihat gap yang begitu besar antara pendidikan di kota dan di daerah Timur. Itu saat lawatanku ke Flores. Di sana, tidak ada listrik, tak ada infrastruktur pendidikan yang memadai, murid sekolah duduk di lantai, bahkan guru-gurunya pun keahliannya tidak memadai,” ungkap lulusan S2 Komunikasi Universitas Amsterdam tersebut.

Karena itu, Nila Tanzil berusaha menyoroti pentingnya pemerataan pendidikan dan akses buku bagi semua pelajar, khususnya Sekolah Dasar. “Kenapa kita memilih ke Timur? Karena di sana menjadi wilayah yang paling minim keterjangkauan untuk ruang baca anak-anak. Untuk itu, sekolah yang terpilih, biasanya akan kami bangunkan perpustakaan, subsidi minimal 1.200 buku, serta pelatihan manjemen perpustakaan bagi para guru,” katanya.

Selain menerima donasi dan bantuan, beberapa bulan yang lalu Taman Bacaan Pelangi sempat bekerja sama dengan Google untuk membangun perpustakaan berbasis teknologi. Termasuk, Nila menekankan pentingnya pemilihan buku yang sesuai bagi anak-anak.

“Pemerintah sebagian besar memang sering mensubsidi buku-buku ke sekolah. Tapi sayang sekali, judulnya itu sangat tidak sesuai dengan anak-anak. Masa saya lihat ada buku budidaya lele dan cara menanam kacang panjang di perpus SD?” jelas Nila yang turut menggagas aksi bebas buta huruf bagi orang tua.

Sementara itu, Willy Ariguna selaku founder dari Rumah Belajar Aqil (RBA) menyoroti tentang pentingnya peran seluruh pihak dalam menyukseskan pendidikan serta penyediaan ruang belajar yang kondusif bagi pelajar. “Berbeda dengan Mbak Nila yang memulai gerakannya dari Timur, RBA mengawalinya dari kota lalu dibawa ke ujung negeri. Karena di pelosok kota sendiri kami melihat masih banyak PRyang harus diselesaikan,” katanya.

Willy di samping itu turut menggarisbawahi bahwa pendidikan tidak hanya menjadi tugas sekolah. Melainkan, menjadi tugas bersama entah tua atau muda. Hal itu dikhususkan untuk para generasi muda.

“Temen-temen di sini yang bertugas mengisi ruang pendidikan. Tugas saya hanya membuka pikiran kawan-kawan. Bahwa dunia itu tidak seindah konser BTS maupun drama korea. Bukan saatnya lagi untuk bermalas-malasan dan mengeluh,” ungkap Willy.

Willy mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan tantangan yang remeh, melainkan dibutuhkan kerja keras dari seluruh pihak. “Salahnya kita itu, masyarakat selalu ditempatkan sebagai pengguna pengetahuan. Padahal seharusnya masyarakat berapapun umurnya berhak dan harus menjadi produsen dari ilmu pengetahuan itu sendiri,” tuturnya. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu