Pengaruh Nutrien pada Keberadaan Alga Berbahaya di Banyuwangi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Nutrien yang merupakan kebutuhan utama bagi fitoplankton sekaligus menjadi faktor pembatas bagi kehidupan fitoplankton adalah nitrogen dan fosfor. Nutrien tersebut dapat dimanfaatkan oleh fitoplankton meskipun keberadaannya di perairan dalam jumlah yang sedikit.

Umumnya pada tambak budidaya, upaya untuk peningkatan kesuburan perairan dilakukan dengan pemberian pupuk organik atau anorganik. Perairan yang subur dapat ditandai dengan fitoplankton yang melimpah.

Namun, peningkatan jumlah nutrien yang masuk ke dalam perairandapat menyebabkan Harmfull alga yang bersifat toksin mengalami ledakan populasi (blooming algae). Berdasarkan latar belakang tersebut, Luthfiana Aprilianita Sari, S.Pi., M.Si bersama tim melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh nutrien dalam jumlah yang berlebih pada keberadaan alga berbahaya di Banyuwangi.

“Harmfull alga diketahui dapat memproduksi toksin yang dapat mengganggu produktivitas biota perairan. Harmfull alga dapat menjadi kompetitor bagi kehidupan plankton lain. Perairan budidaya yang banyak terdapat Harmfull alga yang merugikan akan mengalami gangguan produktivitas sampai potensi kematian pada organisme budidaya. Harmfull alga yang sering mendominasi perairan jika terjadi ledakan populasi, umumnya berasal dari genus yang merugikan”, ujar dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) tersebut.

Peningkatan nutrien, tambahnya, dapat berupa amonium, nitrat, nitrit dan fosfat.Peningkatan amonium dapat disebabkan karena amonium tidak teroksidasi menjadi nitrit. Hal ini diduga karena bakteri Nitrosomonas tidak bekerja merombak amonium.

Sedangkan peningkatan kadar nitrit pada perairan, lanjutnya, dapat mengancam kelangsungan hidup ikan. Hal ini dikarenakan, nitrit dapat mengoksidasi haemoglobin menjadi metahaemoglobin dalam darah, menghambat proses respirasi, mengubah warna darah dan insang menjadi kecoklatan, serta menimbulkan kerusakan pada sistem saraf, hati, limpa dan ginjal ikan.

“Selain itu peningkatan nitrat tidak bisa dianggap remeh. Keberadaan nitrat dapat memunculkan dominasi dari diatom dikarenakan diatom butuh nitrat untuk kebutuhan pembelahan sel, sedangkan Harmfull alga lebih cocok di lingkungan tinggi amonium dan rendah nitrat”, jelasnya,

Pada akhir, dosen yang akrab disapa Luthfiana tersebut menegaskan, Harmfull alga lebih cocok di lingkungan tinggi amonium dan rendah nitrat. Apabila nitrat melimpah maka diatom juga akan melimpah. Kondisi yang minim kandungan nitrat, akan jarang didominasi oleh diatom karena tidak banyak nitrat yang dapat dimanfaatkan. Sehingga keberadaan nutrien yang berlebihan tidak termanfaatkan dengan baik, namun dapat mempengaruhi kelangsungan hidup alga berbahaya.

Penulis: Dian Putri Apriliani

Editor: Nuri Hermawan

Link :

http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9682&iid=276&jid=3

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu