Mempertanyakan Peran Perawat dalam Penanggulangan Bencana

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Yulis Setiya Dewi, S.Kep.Ns., M.Ng saat menyampaikan materi pada acara seminar profesi keperawatan nasional pada Sabtu (26/10/2019). (Foto: Istimewa)
Dr. Yulis Setiya Dewi, S.Kep.Ns., M.Ng saat menyampaikan materi pada acara seminar profesi keperawatan nasional pada Sabtu (26/10/2019). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Indonesia merupakan negara yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana. Karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan Seminar Profesi Keperawatan Nasional (SPOKEN) 2019. Acara yang bertema “Pengelolaan Bencana: Pentingnya Mitigasi dan Preparedness dalam Menghadapi Dampak Bencana yang Terjadi” tersebut diadakan pada Sabtu (26/10/2019) di Hall D Asrama Haji Surabaya.

Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons) selaku dekan FKp UNAIR hadir pada acara tersebut sekaligus menjadi pemateri. Agus Ardiyansyah, S.K.M, S.E, M.P.H, Ph.D selaku analis mitigasi bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dan Dr. Yulis Setiya Dewi, S.Kep.Ns., M.Ng selaku dosen keperawatan kritis FKp UNAIR juga hadir sebagai pemateri. Acara tersebut dimoderatori oleh Hidayat Arifin, S.Kep.Ns yang merupakan alumnus FKp UNAIR.

Pada acara tersebut, Dr. Yulis mengungkapkan tentang Strategi Nasional Penanggulangan Bencana 2015–2019 adalah mewujudkan visi dan misi ketangguhan bangsa Indonesia menghadapi bencana. Artinya, Indonesia tidak hanya tanggap bencana akan, tetapi tangguh dalam menghadapi bencana. “Jadi, bukan hanya tanggap, tetapi tangguh,” ucapnya.

Ada empat permasalahan dalam penanggulangan bencana. Pertama, kurangnya pemahaman tentang karakteristik bahaya. Kedua, sikap dan perilaku yang menurunkan kualitas sumber daya alam. Ketiga, kurangnya informasi atau peringatan dini yang mengakibatkan ketidaksiapan. Serta, keempat, ketidakberdayaan dan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana.

Menurut International Concil of Nurses (ICN), perawat memainkan peran penting dalam penanggulangan bencana. Dari tahun ke tahun, perawat dipanggil dan terpanggil untuk menolong memenuhi kebutuhan individu, kelompok, dan komunitas dalam masa krisis.

Dr. Yulis mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang mengakibatkan perawat memainkan peran penting dalam penanggulangan bencana. Pertama, perawat memiliki skill.

Skill yang dimiliki perawat itu luas, mulai dari memberikan terapi hingga preventif,” ujarnya. Kedua, perawat itu kreatif dan mudah beradaptasi serta bisa bekerja sama dengan seluruh unsur penanggulangan bencana.

Ada beberapa hal yang bisa perawat lakukan dalam penanggulangan bencana. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah membantu melakukan pencarian, penyelamatan, dan melokalisasi korban. Kedua, triage, hal itu mengharuskan perawat untuk melakukan identifikasi secara cepat korban bencana yang membutuhkan stabilisasi segera. Ketiga, pertolongan pertama, pertolongan pertama yang dilakukan seperti mengobati luka rubfab serta melakukan pertolongan bantuan hidup dasar.

Keempat, membantu proses pemindahan korban. Pemindahan korban bencana tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, perawat dibekali kemampuan untuk memeriksa kondisi dengan memantau tanda-tanda vital sehingga dapat melakukan pemindahan korban dengan baik. Kelima, perawatan di rumah sakit. Keenam, melakukan Rapid Health Assesment.

“Tugas perawat dalam RHA adalah menilai kesehatan secara cepat melalui pengumpulan informasi yang tepat,” ucap Dr. Yulis.

“Menilai kondisi pasien tidak boleh lama, mengukur respons pasien dilakukan maksimal hanya 10 detik”, imbuhnya.

Selain itu, perawat memiliki peran di dalam posko pengungsian dan posko bencana. Hal yang dapat dilakukan, yakni mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian hingga berkolaborasi dengan petugas farmasi untuk mengecek ketersediaan obat. Fase postimpact juga membutuhkan peran perawat di dalamnya. Dalam fase ini, perawat membantu masyarakat untuk hidup normal kembali melalui proses konsultasi atau edukasi serta membantu memulihkan kondisi fisik dengan cepat.

“Membantu memulihkan kondisi fisik secepat-cepatnya agar tidak terjadi second disaster,” pungkasnya. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu