Dosen FST Ungkap Potensi Keanekaragaman Mikroorganisme Termofilik di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas tektonik yang tinggi dan jumlah gunung berapi terbesar. Selain itu, Indonesia juga dinobatkan sebagai salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman biodeversitas atau biasa dikenal dengan megabiodeversitas. Kedua faktor tersebut berimplikasi pada tingginya keanekaragaman mikroorganisme termofilik yang mampu bertahan hidup di suhu tinggi (di atas 50°C).

Mikroorganisme termofilik memiliki potensi sebagai penghasil enzim termostabil yang mampu bekerja secara aktif di suhu tinggi utamanya pada bidang industri. Hal tersebut menjadi latar belakang Almando Geraldi, S.Si., Ph.D bersama tim melakukan penelitian untuk mengetahui potensi dari keanekaragaman mikroorganisme termofilik terkhusus yang ada di Indonesia.

“Berbagai proses industri dilakukan pada suhu tinggi untuk meningkatkan efisiensinyamembutuhkan berbagai bahan kimia berbahaya seperti asam dan senyawa oksidatif yang memiliki efek negatif pada kesehatan dan lingkungan. Proses-proses tersebut umumnya membutuhkan enzim termostabil sebagai alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan bagi proses industri yang dilakukan,” ujar dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) tersebut.

Selain itu, lanjutnya, mikroorganisme termofilik dapat menjadi alternatif dalam proses fermentasi bahan kimia bernilai tinggi seperti protein rekombinan, biofuel, dan biopolimer.Penggunaan mikroorganisme termofilik memungkinkan proses fermentasi dilakukan pada suhu tinggi, selain meminimalisir kontaminasi, juga mampu menghemat energi dan waktu yang sedianya dibutuhkan untuk proses sterilsisasi.

“Daerah penelitian yang saya dan tim lakukan yaitu di sumber air panas Cangar telah berhasil diperoleh Bacillus subtilis subspecies Inaquosorum. Spesies ini baru pertama kali dilaporkan diisolasi di Indonesia. Isolat bakteri yang kemudian dinamakan CGR-1 tersebut mampu hidup pada suhu 60°C. Selain itu, spesies ini memiliki berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan dalam bioindustri karena mampu menghasilkan enzim selulase, amilase, dan beta-glukosidase pada suhu 50°C,” jelasnya.

Pada akhir, dosen yang akrab disapa Gerry tersebut menjelaskan ketiga enzim yang dihasilkan oleh CGR-1 dapat dimanfaatkan untuk produksi gula dan bioethanol dari limbah-limbah agrikultur. Selain itu, juga mampu menghasilkan biosurfaktan yang merupakan alternatif ramah lingkungan jika dibandingkan dengan surfaktan sintetik yang umumnya digunakan dalam industri makanan, farmasi, bioremediasi dan ekstraksi minyak bumi. Sehingga kedepan dapat di aplikasikan pada industri-industri terkait.

Penulis: Dian Putri Apriliani

Editor: Nuri Hermawan

Link :

http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9690&iid=276&jid=3  , http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9734&iid=277&jid=4 

https://www.researchgate.net/publication/334120520_Bioprospecting_thermostable_enzymes-producing_thermophiles_from_Indonesia , https://www.researchgate.net/publication/336252112_BIOPROSPECTING_OF_CELLULOLYTIC_AND_BIOSURFACTANT-_PRODUCING_BACTERIA_FOR_ORGANIC_WASTE_TREATMENT

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu