Agus Ardiyansyah: Saat Ini Indonesia Tak Lagi Diapit 3 Lempeng Bumi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
AGUS Ardiyansyah, S.K.M, S.E, M.P.H, Ph.D saat memaparkan materi pada seminar profesi keperawatan nasional yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga pada Sabtu (26/10/2019) di Hall D Asrama Haji Surabaya. (Foto: Istimewa)
AGUS Ardiyansyah, S.K.M, S.E, M.P.H, Ph.D saat memaparkan materi pada seminar profesi keperawatan nasional yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga pada Sabtu (26/10/2019) di Hall D Asrama Haji Surabaya. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi bencana. Terlebih pada 2019 ini menjadi tahun waspada bagi Indonesia. Agus Ardiyansyah, S.K.M, S.E, M.P.H, Ph.D selaku analis mitigasi bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur sekaligus pemateri pada acara seminar profesi keperawatan nasional 2019 mengatakan bahwa saat ini bumi bagian bawah dan atas sedang bergerak.

“Saat ini merupakan tahun waspada. Tahun di mana semua bergerak. Bumi bagian bawah bergerak, atas pun juga,” ucap Agus.

Berdasar data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total bencana yang terjadi pada 2019 sejumlah 2138 bencana dengan korban meninggal sebanyak 372 orang serta 1.909.502 orang terdampak dan mengungsi serta 1502 orang mengalami luka-luka. Sedangkan, menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di wilayah Jawa Timur mengalami peningkatan bencana gempa bumi dari rentan waktu 2016–2018. Pada 2016, tercatat ada 566 kejadian, pada 2017 ada 557 kejadian, sedangkan pada 2018 terdapat 633 kejadian.

Data tersebut bisa mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Terlebih saat ini tercatat ada 448 patahan di wilayah Jawa Timur. Hal yang perlu diketahui pula bahwa wilayah Jawa Timur dilewati empat patahan besar, yakni zona rembang, randu blatung, kendeng, serta grindulu.

“Ancaman utama yang harus diwaspadai ada 448 patahan di wilayah Jawa Timur,” ujar Agus. 

Penyebab terjadinya bencana selain pemanasan global salah satunya adalah lempeng di Indonesia saat ini bergerak sangat aktif. Saat ini Indonesia tak lagi diapit oleh hanya 3 lempeng besar, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

“Dahulu Indonesia diapit oleh 3 lempeng, tetapi pada saat ini berbeda,” terang Agus. Agus mengatakan bahwa pasca bencana alam di Sulawesi terdapat satu lempeng yang luput dari pengawasan, yakni Lempeng Filipina.

“Pasca kejadian bencana alam di Sulawesi, ternyata ada satu lempeng yang luput dari pengamatan dan antisipasi, yakni Lempeng Filipina,” paparnya.

Karena itu, saat ini Indonesia diapit oleh empat lempeng bumi. Empat lempeng bumi tersebut sama-sama sangat aktif bergerak. Meskipun begitu, lempeng Indo-Australia masih menjadi lempeng bumi yang paling aktif.

”Semua lempeng ini aktif bergerak, yang paling aktif adalah lempeng Indo-Australia di wilayah selatan pantai Jawa,” pungkasnya. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu