Implementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Maba Akuntansi Gelar Pengabdian Masyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah satu potret kegiatan pengmas oleh mahasiswa Akuntansi PSDKU Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Telah menjadi budaya dalam serangkaian kaderisasi mahasiswa baru Program Study Akuntansi Universitas Airlangga di Banyuwangi, untuk melaksanakan pengabdian masyarakat sebagai pengimplementasian Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan tersebut, merupakan serangkaian acara Forum Orierntasi Zona Akuntansi (FORZA) yang merupakan program kerja dari Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNAIR Banyuwangi.

Mengutamakan aspek keberlanjutan, maka tahun ini Mahasiswa baru angkatan 2019 kembali memilih Desa Macanputih, Kecamatan Kabat, sebagai  desa mitra. Acara yang diselenggarakan pada Sabtu (26/10) tersebut berlangsung dengan lancar, dan dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi.

Muhammad Dzakwan Ihza Mahendra, selaku ketua pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menjelaskan bahwa tema acara yang dipilih adalah pemberdayaan masyarakat dalam inovasi pengolahan sampah. Untuk mencapai tujuan dari tema tersebut, panitia juga menggandeng DLH Banyuwangi.

“Untuk tema pengabdian kita kali ini adalah, pemberdayaan masyarakat dalam inovasi pengelolaan sampah, dan kami menyasar ibu – ibu PKK sebagai sasaran kegiatan kami. Untuk menunjang kelancaran dan keberlanjutan pemberdayaan ini, kami juga berusaha menggandeng instansi terkait, yakni Dinas Linkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi,” terang mahasiswa yang akrab disapa Dzakwan tersebut.

Dalam acara tersebut, lanjut Dzakwan, dihadiri oleh PKK desa Macanputih, dan dihadiri oleh 4 perwakilan DLHKabupaten Banyuwangi. Perwakilan DLH tersebut, menjelaskan terkait pengelolaan sampah, sosisalisasi SIBAS (Sistem Informasi Bank Sampah), dan dilanjutkan dengan praktik pengolahan sampah anorganik menjadi kerajinan dan barang bernilai lainnya, serta sampah organik menjadi kompos. Lalu, dinilai kelompok mana yang membuat kerajinan paling baik, dan terakhir acara ditutup dengan kegiatan foto bersama.

“Kegiatan kami berlangsung dengan lancar, diawali dengan penyampaian materi oleh perwakilan DLH Banyuwangi, dan kemudian dibentuklah kelompok untuk praktik membuat kerajinan dari sampah anorganik. Dari hasil praktik tersebut, kemudian kami nilai kelompok mana yang terbaik, dan terakhir acara kami tutup dengan sesi foto bersama,” pungkas Dzakwan.(*)

Penulis: Dian Pratama

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu